Tak Sekedar Kata
Ketika hidup kita maknai dari sekumpulan syair... Kan kita temukan ada banyak cinta yang bisa kau temui... Tuk sejenak merenungi akan kuasa dan anugerah-Nya
Cerpen
Ada banyak hikmah kehidupan yang bisa kita dapatkan dari segala macam peristiwa terkecil di dunia ini... karena setidaknya Allah telah menghadirkan hikmah besar dari sebuah peristiwa kecil sekalipun...
Minggu, 31 Oktober 2010
Sabtu, 30 Oktober 2010
«Doa untuk Ibu» Track two Kado spesial Emak dan Nino
Sore itu tak sepeser uang pun kudapati mendarat di tanganku. Walaupun pasar tampak berkerumunan penjual berlalu lalang. Namun, rejeki itu belum juga mengalir pada diriku. Aku masih tampak lunglai memperhatikan kesibukan orang yang asyik berniaga. Dan diantara ribuan pemandangan yang tampak dihadapanku. Aku hanya menjadi seorang penonton setia menikmati kesibukan ini.
Tampaknya orang-orang tak lagi membutuhkan jasa angkutku. Mereka lebih suka menyuruh pemuda-pemuda yang kuat dan perkasa untuk mengangkut bahan belanjaannya. Maklumlah usiaku yang mulai keriput membuat tenaga dan semangatku mulai memudar.
Hatiku hanya bisa mengaduh pasrah. Masih terbayang kedua anakku yang tampak setia menunggu kepulanganku. Mereka pasti berharap akan makan enak malam ini. Namun, kenyataan berkehendak lain. Bisa jadi malam ini tak ada sepiring nasi yang biasa kami hidangkan untuk mengganjal perut. Berlaukkan garam halus dan sambal terasi yang terhidang untukku dan kedua anakku. Mengantarkan kami untuk sekedar bisa tidur nyenyak malam.
Kulangkahkan kakiku lemah menyusuri jalan-jalan di pasar itu. Bau amis ikan, dan bau busuk sampah tampak menyatu menggerogoti hatiku. Kucoba untuk tetap melangkah tajam menyisakan semangat untuk tetap rindu bertemu kedua anakku.
“Ya Allah tidakkah ada rezeki halal untuk hamba-Mu hari ini… Ya Allah…”, pintaku dalam hati.
Dan tanpa sadar air mata tiba-tiba berlinang jatuh menyusuri keriput pipiku. Aku mencoba tetap tegar menerima kenyataan yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Melangkahkan kaki dengan mantab menapaki jalan perkampungan itu.
Ragaku mulai lelah, bukan karena jasa angkut yang kujual telah laku semua. Namun terik mentari yang sedari pagi mencampakkan tubuhku. Namun aku hanya mampu untuk tetap terdiam di pojok pasar tanpa bisa melakukan satu hal sekecil pun. Hari ini terasa menjadi hari tersulit yang pernah kualami.
+++
“Mak.. mak…, hari ini Nino ulang tahun, Mak”, teriak anak bungsuku kegirangan.
Ucapan itulah yang membuat jiwaku terasa lebih remuk saat ini. Masih kuingat jelas pagi tadi, anak bungsuku itu tampak asyik membayangkan imajinasinya. Bayangan untuk bisa menikmati hal spesial dihari spesialnya. Namun, kini tak sepeser duitpun tersisa untuk sekedar memberikan hadiah kecil untuk Nino. Walau hanya sekedar makan sebungkus nasi telor.
Di sepanjang perjalanan pulangku, aku hanya bisa membayangkan betapa hancurnya hati Nino ketika mendapati ibunya datang tanpa memberikan apapun. Dia pasti akan kecewa dan hanya bisa memendam rasa tangisnya.
“Namun, tetap kuberanikan langkahku untuk menemui meraka. Karena bagaimanapun, mereka adalah anak-anakku.”, batinku dalam hati.
+++
Rumahku tampak sepi melompong. Sore itu terasa semakin sunyi ditambah dengan kondisi rumahku yang semakin memburuk. Tak terlihat kedua anakku yang biasa riang bermainan di sepanjang jalan perkampungan ini. Seakan mereka telah siap menyambutku di dalam rumah.
Ku beranikan diri untuk membuka pintu yang memang tak tertutup rapat yang mulai lapuk termakan usia.
“Assalamu’alaikum….”, sapaku dengan tenang.
“Nino… Adin…”, lanjutku.
Tak satupun dari mereka yang bergegas menghampiriku. Tak seperti biasanya mereka tampak diam tak menyambut kedatanganku. Hatiku semakin terasa kecut dibuatnya.
“Mungkin mereka marah karena tahu bila ibunya pulang tanpa membawa secarik kado hadiah diulang tahun Nino.”, batinku dalam hati.
Segera kulangkahkan kakiku untuk menuju ruang lain yang hanya terpisahkan oleh secarik kain kelabu yang mulai sobek-sobek.
“Nino… Adin… Dimana kalian..?”,seruku lebih keras.
Dan tanpa diduga ketemukan kedua anankku ini di sudut ruang. Mereka tampak duduk saling berhadapan. Di depan mereka tampak kulihat nasi kuning yang terbentuk kerucut menjulang dengan berbegai jenis makanan yang terhidang. Tak lupa juga tiga gelas air putih tampak tersusun rapi disampingnya. Hal yang membuatku semakin tak percaya.
“Subhanallah, dari mana kalian mendapatkan makanan sabanyak ini… ?”, seruku menghardik mereka.
“Kalian mencuri ya…”, lanjutku.
Kedua anakku masih terdiam tak menjawab. Wajah mereka yang semula hinggar bingar tampak berubah menjadi semakin kecut. Dan segera kupeluk kedua anakku ini.
“Sudah kubilang pada kalian berdua kan. Kita memang tak punya banyak harta melimpah. Tapi jangan sampai kefakiran kita ini membuat kita kufur pada Allah. Ingat kan Nak…”, lanjutku sembari memeluk meraka.
Kedua anakku tampak menangis dipelukan. Pemandangan yang tampak membuat hatiku semakin remuk redam.
“Iya.. Mak… Adin, Nino tahu hal itu. Kan Emak juga sering menasehati kami..”,jawab Adin sambil terisak tangis.
“Tapi, semua hasil makanan ini insyallah adalah uang halal. Kami memang sengaja mengumpulkan uang ngamen untuk sekedar mensyukuri usia yang telah Allah berikan pada Nino dan Emak.”, lanjut Nino.
“Iya… Mak… Bukankah hari ini Emak juga ulang tahun.”, seru Adin girang.
Kudekap semakin erat kedua anakku ini. Semua terasa semakin mengharu ketika kudengar ucapan bijak yang telah anak-anakku ucapkan ditelingaku. Semakin membasahi diri dengan haru air mata bahagiaku.
Tampaknya orang-orang tak lagi membutuhkan jasa angkutku. Mereka lebih suka menyuruh pemuda-pemuda yang kuat dan perkasa untuk mengangkut bahan belanjaannya. Maklumlah usiaku yang mulai keriput membuat tenaga dan semangatku mulai memudar.
Hatiku hanya bisa mengaduh pasrah. Masih terbayang kedua anakku yang tampak setia menunggu kepulanganku. Mereka pasti berharap akan makan enak malam ini. Namun, kenyataan berkehendak lain. Bisa jadi malam ini tak ada sepiring nasi yang biasa kami hidangkan untuk mengganjal perut. Berlaukkan garam halus dan sambal terasi yang terhidang untukku dan kedua anakku. Mengantarkan kami untuk sekedar bisa tidur nyenyak malam.
Kulangkahkan kakiku lemah menyusuri jalan-jalan di pasar itu. Bau amis ikan, dan bau busuk sampah tampak menyatu menggerogoti hatiku. Kucoba untuk tetap melangkah tajam menyisakan semangat untuk tetap rindu bertemu kedua anakku.
“Ya Allah tidakkah ada rezeki halal untuk hamba-Mu hari ini… Ya Allah…”, pintaku dalam hati.
Dan tanpa sadar air mata tiba-tiba berlinang jatuh menyusuri keriput pipiku. Aku mencoba tetap tegar menerima kenyataan yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Melangkahkan kaki dengan mantab menapaki jalan perkampungan itu.
Ragaku mulai lelah, bukan karena jasa angkut yang kujual telah laku semua. Namun terik mentari yang sedari pagi mencampakkan tubuhku. Namun aku hanya mampu untuk tetap terdiam di pojok pasar tanpa bisa melakukan satu hal sekecil pun. Hari ini terasa menjadi hari tersulit yang pernah kualami.
+++
“Mak.. mak…, hari ini Nino ulang tahun, Mak”, teriak anak bungsuku kegirangan.
Ucapan itulah yang membuat jiwaku terasa lebih remuk saat ini. Masih kuingat jelas pagi tadi, anak bungsuku itu tampak asyik membayangkan imajinasinya. Bayangan untuk bisa menikmati hal spesial dihari spesialnya. Namun, kini tak sepeser duitpun tersisa untuk sekedar memberikan hadiah kecil untuk Nino. Walau hanya sekedar makan sebungkus nasi telor.
Di sepanjang perjalanan pulangku, aku hanya bisa membayangkan betapa hancurnya hati Nino ketika mendapati ibunya datang tanpa memberikan apapun. Dia pasti akan kecewa dan hanya bisa memendam rasa tangisnya.
“Namun, tetap kuberanikan langkahku untuk menemui meraka. Karena bagaimanapun, mereka adalah anak-anakku.”, batinku dalam hati.
+++
Rumahku tampak sepi melompong. Sore itu terasa semakin sunyi ditambah dengan kondisi rumahku yang semakin memburuk. Tak terlihat kedua anakku yang biasa riang bermainan di sepanjang jalan perkampungan ini. Seakan mereka telah siap menyambutku di dalam rumah.
Ku beranikan diri untuk membuka pintu yang memang tak tertutup rapat yang mulai lapuk termakan usia.
“Assalamu’alaikum….”, sapaku dengan tenang.
“Nino… Adin…”, lanjutku.
Tak satupun dari mereka yang bergegas menghampiriku. Tak seperti biasanya mereka tampak diam tak menyambut kedatanganku. Hatiku semakin terasa kecut dibuatnya.
“Mungkin mereka marah karena tahu bila ibunya pulang tanpa membawa secarik kado hadiah diulang tahun Nino.”, batinku dalam hati.
Segera kulangkahkan kakiku untuk menuju ruang lain yang hanya terpisahkan oleh secarik kain kelabu yang mulai sobek-sobek.
“Nino… Adin… Dimana kalian..?”,seruku lebih keras.
Dan tanpa diduga ketemukan kedua anankku ini di sudut ruang. Mereka tampak duduk saling berhadapan. Di depan mereka tampak kulihat nasi kuning yang terbentuk kerucut menjulang dengan berbegai jenis makanan yang terhidang. Tak lupa juga tiga gelas air putih tampak tersusun rapi disampingnya. Hal yang membuatku semakin tak percaya.
“Subhanallah, dari mana kalian mendapatkan makanan sabanyak ini… ?”, seruku menghardik mereka.
“Kalian mencuri ya…”, lanjutku.
Kedua anakku masih terdiam tak menjawab. Wajah mereka yang semula hinggar bingar tampak berubah menjadi semakin kecut. Dan segera kupeluk kedua anakku ini.
“Sudah kubilang pada kalian berdua kan. Kita memang tak punya banyak harta melimpah. Tapi jangan sampai kefakiran kita ini membuat kita kufur pada Allah. Ingat kan Nak…”, lanjutku sembari memeluk meraka.
Kedua anakku tampak menangis dipelukan. Pemandangan yang tampak membuat hatiku semakin remuk redam.
“Iya.. Mak… Adin, Nino tahu hal itu. Kan Emak juga sering menasehati kami..”,jawab Adin sambil terisak tangis.
“Tapi, semua hasil makanan ini insyallah adalah uang halal. Kami memang sengaja mengumpulkan uang ngamen untuk sekedar mensyukuri usia yang telah Allah berikan pada Nino dan Emak.”, lanjut Nino.
“Iya… Mak… Bukankah hari ini Emak juga ulang tahun.”, seru Adin girang.
Kudekap semakin erat kedua anakku ini. Semua terasa semakin mengharu ketika kudengar ucapan bijak yang telah anak-anakku ucapkan ditelingaku. Semakin membasahi diri dengan haru air mata bahagiaku.
Jumat, 22 Oktober 2010
lomba esai berhadiah ke jerman
http://kompetisiesai.blogspot.com/
Anak Muda & Rekonsiliasi
Menyembuhkan luka sejarah adalah kerja besar. Bukan sekadar kerja satu dua tahun, tetapi mungkin puluhan tahun. Betapa pun, sebuah langkah kecil tetap harus dimulai. Kompetisi menulis esai ini bertujuan supaya anak muda bisa menuangkan pandangan pribadinya terhadap tragedi 1965 dan memulai langkah kecil sebagai rintisan awal menuju kepada rekonsiliasi. Anak muda, dalam konteks ini, adalah pemegang kunci. Karena merekalah pemilik sesungguhnya masa depan bangsa ini, tempat cita-cita rekonsiliasi didedikasikan.
Tujuan
Mengajak anak muda membicarakan luka sejarah, khususnya tragedi 1965, bagaimana anak muda memandang persoalan ini dan bagaimana sebaiknya kita –sebagai bangsa— mengambil langkah ke depan.
Mengapa Esai?
Esai adalah bentuk tulisan yang subyektif, yang menyatakan pikiran dan perasaan si penulis, sehingga merupakan bentuk tulisan yang tepat untuk konteks “Menyembuhkan Luka Sejarah–Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965” ini.
Panduan Menulis Esai
A. Umum
1. Naskah yang dilombakan merupakan karya perorangan peserta, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta belum pernah dipublikasikan di mana pun.
2. Peserta boleh mengirim lebih dari satu judul naskah, tetapi hanya dapat memenangi satu judul saja.
3. Hanya naskah yang memenuhi ketentuan-ketentuan dalam panduan ini yang akan dinilai oleh Dewan Juri; Mohon saksamai ketentuan-ketentuan berikut ini.
4. Naskah yang telah dikirim menjadi hak milik Panitia.
5. Batas akhir pengiriman naskah: Selasa, 30 November 2010, pukul 24.00 WIB.
6. Pengumuman pemenang: Senin, 10 Januari 2011.
B. Peserta
1. Yang diperbolehkan mengikuti kompetisi esai ini adalah Siswa SMA, Mahasiswa, dan Umum.
2. Batas Usia Peserta kompetisi esai ini adalah 17-25 tahun.
3. Peserta wajib menyertakan pindaian (scan) kartu pelajar (untuk SMA), kartu tanda mahasiswa (untuk Mahasiswa), kartu tanda penduduk (untuk Umum) yang masih berlaku, dimuat di Lembar Pernyataan Originalitas naskah yang dikirimkan.
C. Penulisan Esai
1. Judul bebas, sesuai tema kompetisi.
2. Format tulisan adalah esai, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah ditulis menggunakan MS Word 97–2004, disimpan menjadi file *.doc (bukan file *.docx).
4. Cara Penamaan file: “Nama depan penulis-Judul Esai“,
5. Contoh: Rhesya-Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965.doc
6. Format dokumen naskah:
1. Ukuran kertas: A4
2. Margin atas: 2 cm
3. Margin bawah: 2,5 cm
4. Margin kiri: 3 cm
5. Margin kanan: 2 cm
6. Huruf: Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5
7. Urutan halaman naskah (Lembar Judul, Naskah Esai, dan Lembar Biodata) adalah sebagai berikut:
1. Lembar Judul, 1 (satu) halaman, memuat:
1. Tema
Posisi tulisan: Di bagian paling atas halaman
Huruf (Font): Times New Roman, 12 poin, Bold Italic, Align Center
2. Judul Esai
Posisi tulisan: Beberapa spasi di bawah Subtema
Huruf (Font): Times New Roman, 16 poin, Bold, Align Center
3. Ringkasan Esai
Satu paragraf rangkuman tulisan, memaparkan persoalan yang dibahas penulis dan gagasan yang ditawarkannya.
Posisi tulisan : Beberapa spasi di bawah Judul Esai
Huruf (Font) : Times New Roman; 12 poin; Regular; Spasi 1,5; Justify
Lihat contoh (Lampiran 1: Contoh Lampiran).
2. Naskah Esai, 5000-7000 karakter. Jika ada: gambar penjelas dan catatan kaki, catatan akhir (end note), atau daftar pustaka.
3. Lembar Pernyataan Orisinalitas Karya, 1 (satu) halaman, memuat:
1. Judul Naskah Esai
2. Nama Penulis/Peserta
3. Tempat & Tanggal Lahir
4. Pekerjaan
5. Domisili (Alamat Surat)
6. Alamat Email
7. Telepon, Ponsel
8. Pindaian (scan) kartu pelajar (untuk SMA), kartu tanda mahasiswa (untuk Mahasiswa), kartu tanda penduduk (untuk Umum) yang masih berlaku
Lihat contoh (Lampiran 2: Contoh Lampiran).
D. Pengiriman Karya (Naskah)
1. Naskah disimpan dalam dua format:a. MS Word 97–2004 (file *.doc; bukan *.docx) dan,b. Portable document format (file *.pdf).
2. Naskah (format *.doc dan *.pdf) dikirim sebagai lampiran (attachment) ke redaksi.esai@ gmail.com Pada kolom subjectemail, tulis: “Nama depan penulis-Judul Esai”, contoh: "Rhesya-Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965"
3. Daftar naskah dipampang di: http://kompetisiesai.blogspot.com/
4. Batas akhir pengiriman naskah: Selasa, 30 November 2010, pukul 24.00 WIB.
E. Seleksi Naskah dan Penjurian
1. Tahap penilaian terdiri dari:
1. Seleksi naskah oleh Panitia; Naskah yang tidak lolos seleksi karena kesalahan administratif bisa dikirim ulang sebelum tenggat, 30 November 2010.
2. Penjurian oleh Dewan Juri.
2. Keputusan Dewan Juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu-gugat.
3. Aspek yang dinilai (bobot penjurian):
No. ASPEK PENILAIAN URAIAN BOBOT
1. Gagasan: Orisinal, Kreatif, Aktual Orisinal: gagasan baru, belum pernah dipublikasikan sebelumnya
Kreatif: gagasan menunjukkan pemahaman baru penulis atas persoalan yang dibahas
Aktual: gagasan sesuai kekinian (ada fakta dan data) 35%
2. Kesesuaian dengan Tema/Subtema Esai selaras dengan dan tidak menyalahi tema atau subtema kompetisi yang ditentukan. 10%
3. Tuturan/Penulisan Esai ditulis dengan gaya bahasa yang komunikatif, relatif mudah dipahami. Cara bertuturnya menunjukkan pemahaman penulis yang mendalam terhadap pokok bahasan. 20%
4. Argumentasi Alur berpikir penulisnya tertib dan jelas (mudah dirunut). 35%
HADIAH
JUARA 1
Summer Course di Jerman selama satu bulan + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.
JUARA 2
Laptop/Note Book + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.
JUARA 3
Uang tunai 2.5 juta rupiah + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.
Anak Muda & Rekonsiliasi
Menyembuhkan luka sejarah adalah kerja besar. Bukan sekadar kerja satu dua tahun, tetapi mungkin puluhan tahun. Betapa pun, sebuah langkah kecil tetap harus dimulai. Kompetisi menulis esai ini bertujuan supaya anak muda bisa menuangkan pandangan pribadinya terhadap tragedi 1965 dan memulai langkah kecil sebagai rintisan awal menuju kepada rekonsiliasi. Anak muda, dalam konteks ini, adalah pemegang kunci. Karena merekalah pemilik sesungguhnya masa depan bangsa ini, tempat cita-cita rekonsiliasi didedikasikan.
Tujuan
Mengajak anak muda membicarakan luka sejarah, khususnya tragedi 1965, bagaimana anak muda memandang persoalan ini dan bagaimana sebaiknya kita –sebagai bangsa— mengambil langkah ke depan.
Mengapa Esai?
Esai adalah bentuk tulisan yang subyektif, yang menyatakan pikiran dan perasaan si penulis, sehingga merupakan bentuk tulisan yang tepat untuk konteks “Menyembuhkan Luka Sejarah–Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965” ini.
Panduan Menulis Esai
A. Umum
1. Naskah yang dilombakan merupakan karya perorangan peserta, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta belum pernah dipublikasikan di mana pun.
2. Peserta boleh mengirim lebih dari satu judul naskah, tetapi hanya dapat memenangi satu judul saja.
3. Hanya naskah yang memenuhi ketentuan-ketentuan dalam panduan ini yang akan dinilai oleh Dewan Juri; Mohon saksamai ketentuan-ketentuan berikut ini.
4. Naskah yang telah dikirim menjadi hak milik Panitia.
5. Batas akhir pengiriman naskah: Selasa, 30 November 2010, pukul 24.00 WIB.
6. Pengumuman pemenang: Senin, 10 Januari 2011.
B. Peserta
1. Yang diperbolehkan mengikuti kompetisi esai ini adalah Siswa SMA, Mahasiswa, dan Umum.
2. Batas Usia Peserta kompetisi esai ini adalah 17-25 tahun.
3. Peserta wajib menyertakan pindaian (scan) kartu pelajar (untuk SMA), kartu tanda mahasiswa (untuk Mahasiswa), kartu tanda penduduk (untuk Umum) yang masih berlaku, dimuat di Lembar Pernyataan Originalitas naskah yang dikirimkan.
C. Penulisan Esai
1. Judul bebas, sesuai tema kompetisi.
2. Format tulisan adalah esai, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah ditulis menggunakan MS Word 97–2004, disimpan menjadi file *.doc (bukan file *.docx).
4. Cara Penamaan file: “Nama depan penulis-Judul Esai“,
5. Contoh: Rhesya-Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965.doc
6. Format dokumen naskah:
1. Ukuran kertas: A4
2. Margin atas: 2 cm
3. Margin bawah: 2,5 cm
4. Margin kiri: 3 cm
5. Margin kanan: 2 cm
6. Huruf: Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5
7. Urutan halaman naskah (Lembar Judul, Naskah Esai, dan Lembar Biodata) adalah sebagai berikut:
1. Lembar Judul, 1 (satu) halaman, memuat:
1. Tema
Posisi tulisan: Di bagian paling atas halaman
Huruf (Font): Times New Roman, 12 poin, Bold Italic, Align Center
2. Judul Esai
Posisi tulisan: Beberapa spasi di bawah Subtema
Huruf (Font): Times New Roman, 16 poin, Bold, Align Center
3. Ringkasan Esai
Satu paragraf rangkuman tulisan, memaparkan persoalan yang dibahas penulis dan gagasan yang ditawarkannya.
Posisi tulisan : Beberapa spasi di bawah Judul Esai
Huruf (Font) : Times New Roman; 12 poin; Regular; Spasi 1,5; Justify
Lihat contoh (Lampiran 1: Contoh Lampiran).
2. Naskah Esai, 5000-7000 karakter. Jika ada: gambar penjelas dan catatan kaki, catatan akhir (end note), atau daftar pustaka.
3. Lembar Pernyataan Orisinalitas Karya, 1 (satu) halaman, memuat:
1. Judul Naskah Esai
2. Nama Penulis/Peserta
3. Tempat & Tanggal Lahir
4. Pekerjaan
5. Domisili (Alamat Surat)
6. Alamat Email
7. Telepon, Ponsel
8. Pindaian (scan) kartu pelajar (untuk SMA), kartu tanda mahasiswa (untuk Mahasiswa), kartu tanda penduduk (untuk Umum) yang masih berlaku
Lihat contoh (Lampiran 2: Contoh Lampiran).
D. Pengiriman Karya (Naskah)
1. Naskah disimpan dalam dua format:a. MS Word 97–2004 (file *.doc; bukan *.docx) dan,b. Portable document format (file *.pdf).
2. Naskah (format *.doc dan *.pdf) dikirim sebagai lampiran (attachment) ke redaksi.esai@ gmail.com Pada kolom subjectemail, tulis: “Nama depan penulis-Judul Esai”, contoh: "Rhesya-Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965"
3. Daftar naskah dipampang di: http://kompetisiesai.blogspot.com/
4. Batas akhir pengiriman naskah: Selasa, 30 November 2010, pukul 24.00 WIB.
E. Seleksi Naskah dan Penjurian
1. Tahap penilaian terdiri dari:
1. Seleksi naskah oleh Panitia; Naskah yang tidak lolos seleksi karena kesalahan administratif bisa dikirim ulang sebelum tenggat, 30 November 2010.
2. Penjurian oleh Dewan Juri.
2. Keputusan Dewan Juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu-gugat.
3. Aspek yang dinilai (bobot penjurian):
No. ASPEK PENILAIAN URAIAN BOBOT
1. Gagasan: Orisinal, Kreatif, Aktual Orisinal: gagasan baru, belum pernah dipublikasikan sebelumnya
Kreatif: gagasan menunjukkan pemahaman baru penulis atas persoalan yang dibahas
Aktual: gagasan sesuai kekinian (ada fakta dan data) 35%
2. Kesesuaian dengan Tema/Subtema Esai selaras dengan dan tidak menyalahi tema atau subtema kompetisi yang ditentukan. 10%
3. Tuturan/Penulisan Esai ditulis dengan gaya bahasa yang komunikatif, relatif mudah dipahami. Cara bertuturnya menunjukkan pemahaman penulis yang mendalam terhadap pokok bahasan. 20%
4. Argumentasi Alur berpikir penulisnya tertib dan jelas (mudah dirunut). 35%
HADIAH
JUARA 1
Summer Course di Jerman selama satu bulan + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.
JUARA 2
Laptop/Note Book + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.
JUARA 3
Uang tunai 2.5 juta rupiah + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.
Rabu, 20 Oktober 2010
Senin, 18 Oktober 2010
«Doa untuk Ibu» Track one
Namaku Suparni. Namun, orang-orang pasar lebih suka memanggilku dengan sebutan Mbok Ni’. Pekerjaanku sebagai kuli panggul memang tak sepadan dengan usia dan statusku. Namun, semua ini harus tetap kulakukan untuk menghidupi kedua anakku. Hanya pekerjaan inilah yang masih mampu memberiku kesempatan untuk mengais rejeki. Mencari sesuap nasi pengganjal perut di tengah himpitan kerasnya kehidupan kota Yogyakarta.
Usiaku yang telah menginjak kepala empat tak menyurutkan langkah dan semangatku untuk bisa menghidupi dan menyambung nafas kedua anakku. Anak pertamaku berusia 7 tahun. Seharusnya jika dia sempat mengenyam duduk di bangku sekolah, barangkali seragam merah putih telah ia kenakan. Namun, kemiskinan dan kemelaratan mengharuskannya berhenti dari bangku sekolah. Dan kini kehidupan jalanan yang keras harus rela dia terima dalam kenyataan hidup ini.
Aku bukanlah seorang pejuang tunggal. Lima tahun yang lalu, suamiku lah yang senantiasa memberikan motivasi terhebat untuk menerima seluruh takdir dan kuasa-Nya. Namun, dia harus kembali di dekapan Sang Ilahi karena musibah banjir. Semenjak itu, kehidupanku terasa semakin mencekam. Tak ada lagi orang yang mampu ku andalkan. Dan kini aku harus belajar untuk tetap tegar menyalakan lentera kehidupan bagi keluarga kecilku.
Setiap hari aku harus bergelut dengan para kuli panggul lainnya. Dari sebagian yang ada, hamper semuanya adalah seorang pria. Dan hanya akulah yang perempuan. Namun, semua ini tak menyurutkan langkah dan tenagaku untuk tetap memanggul barang dagangan pembeli ke mobil mereka. Justru karena kehidupan yang keras inilah, telah menerpaku menjadi seorang wanita yang pantang menyerah dengan keadaan.
Satu-satunya semangat yang selalu menyala dalam hatiku adalah kedua anakku. Mereka lah yang selalu menghiburku di saat air mataku mulai deras mengalir di kedua pipiku. Bagaikan lilin-lilin kecil yang siap menyalakan oborku yang mulai padam. Dan aku pun sempat menangis dibuatnya tatkala kudengar doa-doa yang dipanjatkan dari mulut mungil mereka. Doa-doa yang selalu dipanjatkannya di setiap habis waktu sholat.
“ Ya Allah… Berikan rizki dan kedamaian rahmat dalam hidup ibuku. Karena tak ada lagi yang mampu kuberikan pada dirinya, kecuali lantunan doa yang senantiasa kupanjatkan pada-Mu di sela-sela waktuku…”
Usiaku yang telah menginjak kepala empat tak menyurutkan langkah dan semangatku untuk bisa menghidupi dan menyambung nafas kedua anakku. Anak pertamaku berusia 7 tahun. Seharusnya jika dia sempat mengenyam duduk di bangku sekolah, barangkali seragam merah putih telah ia kenakan. Namun, kemiskinan dan kemelaratan mengharuskannya berhenti dari bangku sekolah. Dan kini kehidupan jalanan yang keras harus rela dia terima dalam kenyataan hidup ini.
Aku bukanlah seorang pejuang tunggal. Lima tahun yang lalu, suamiku lah yang senantiasa memberikan motivasi terhebat untuk menerima seluruh takdir dan kuasa-Nya. Namun, dia harus kembali di dekapan Sang Ilahi karena musibah banjir. Semenjak itu, kehidupanku terasa semakin mencekam. Tak ada lagi orang yang mampu ku andalkan. Dan kini aku harus belajar untuk tetap tegar menyalakan lentera kehidupan bagi keluarga kecilku.
Setiap hari aku harus bergelut dengan para kuli panggul lainnya. Dari sebagian yang ada, hamper semuanya adalah seorang pria. Dan hanya akulah yang perempuan. Namun, semua ini tak menyurutkan langkah dan tenagaku untuk tetap memanggul barang dagangan pembeli ke mobil mereka. Justru karena kehidupan yang keras inilah, telah menerpaku menjadi seorang wanita yang pantang menyerah dengan keadaan.
Satu-satunya semangat yang selalu menyala dalam hatiku adalah kedua anakku. Mereka lah yang selalu menghiburku di saat air mataku mulai deras mengalir di kedua pipiku. Bagaikan lilin-lilin kecil yang siap menyalakan oborku yang mulai padam. Dan aku pun sempat menangis dibuatnya tatkala kudengar doa-doa yang dipanjatkan dari mulut mungil mereka. Doa-doa yang selalu dipanjatkannya di setiap habis waktu sholat.
“ Ya Allah… Berikan rizki dan kedamaian rahmat dalam hidup ibuku. Karena tak ada lagi yang mampu kuberikan pada dirinya, kecuali lantunan doa yang senantiasa kupanjatkan pada-Mu di sela-sela waktuku…”
Rabu, 06 Oktober 2010
Setitik Asa
Meskipun
Kau cerca aku dengan jutaan fitnah mediamu
Tapi aku tak kan gentar untuk melangkah maju
Walaupun…
Kau koyak tubuhku dengan ribuan selongsong peluru
Tapi aku tak kan lari memalingkan semangatku
Biarlah…
Kau hempas badan ini dengan ratusan cambukan
Tapi aku tak kan ragu tuk menyuarakan kebenaran
Karna…
Ingin kubuktikan pada dunia, bahwa…
Islam itu cinta damai
Islam itu berprestasi
Islam itu satu
Dan dengan lantang akan kuteriakkan…
“I’m a Moslem and I’m not a terrorist”
aa.mawardhi_10
Kau cerca aku dengan jutaan fitnah mediamu
Tapi aku tak kan gentar untuk melangkah maju
Walaupun…
Kau koyak tubuhku dengan ribuan selongsong peluru
Tapi aku tak kan lari memalingkan semangatku
Biarlah…
Kau hempas badan ini dengan ratusan cambukan
Tapi aku tak kan ragu tuk menyuarakan kebenaran
Karna…
Ingin kubuktikan pada dunia, bahwa…
Islam itu cinta damai
Islam itu berprestasi
Islam itu satu
Dan dengan lantang akan kuteriakkan…
“I’m a Moslem and I’m not a terrorist”
aa.mawardhi_10
Selasa, 21 September 2010
«Masihkah Tersisakah Urat Malu Kita pada Allah….?»
Tak sedikit orang MALU pidato di depan umum…
Jutaan orang MALU tuk mengaku salah…
Ribuan orang MALU menjadi orang miskin…
Tapi…
Hanya sedikit orang yang punya rasa MALU pada Sang Pencipta…
Coba kita renungkan sepenggal bait di atas. Maka kita bisa memahami bahwa sebagai seorang manusia sudah sewajarnya jika kita memiliki rasa malu. Adanya pikiran, hati, dan jiwa yang Allah berikan membuat rasa malu menjadi sebuah hasrat yang sudah sepantasnya dimiliki oleh seseorang. Namun, ketika kita mau menilik lebih dalam lagi, maka dapat kita mengerti adanya nilai positif dan negatif dari adanya sikap ini.
Sebagai contoh, seseorang murid yang mukanya memerah karena ia ketahuan mencontek saat ulangan harian, atau seorang karyawan perusahaan yang merasa canggung dan malu ketika menyampaikan idenya di depan pimpinan dan karyawan lain. Dan contoh yang lebih ekstrim lagi adalah ketika seorang pencuri tertangkap basah saat melakukan aksinya.
Contoh-contoh tersebut erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari di sekeliling kita. Tak jarang justru kita sendiri tanpa sadar juga telah ikut serta terjebak dengan perasaan malu ini. Dan, pada akhirnya akan muncul tembok-tembok pemisah nilai-nilai keberanian kita.
Pada dasarnya perasaan malu erat kaitannya dengan hubungannya di depan umum. Seseorang merasa panik dan terganggu ketika perbuatan atau omongannya diketahui oleh orang lain. Parasaan ini biasanya acap kali muncul karena pengaruh dari dalam dirinya sendiri. Seseorang akan merasa malu ketika ada orang lain yang mengamati dan melihat tingkah lakunya. Dan alhasil akan menyebabkan sikap yang biasa disebut “salah tingkah”.
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali-‘Imran ; 29).
Jika kita menilik dari ayat Al-quran tersebut, dapat kita pahami bahwa sebagai Sang Pencipta, Allah memiliki kuasa untuk mengetahui segala sesuatu di alam raya ini. Dan jika kita mau merenungkan kembali, dapat kita ketahui bahwa setiap tingkah dan prilaku yang kita lakukan setiap hari selalu diamati dan disaksikan sepenuhnya oleh Allah SWT.
Kika kita mau merenungkan lebih jauh lagi, maka akan timbul rasa MALU ketika tingkah laku kita tidak sesuai dengan yang Allah harapkan. Dan pada akhirnya setiap langkah dan sikap yang kita ambil akan selalu berada di jalan cinta-Nya.
Jutaan orang MALU tuk mengaku salah…
Ribuan orang MALU menjadi orang miskin…
Tapi…
Hanya sedikit orang yang punya rasa MALU pada Sang Pencipta…
Coba kita renungkan sepenggal bait di atas. Maka kita bisa memahami bahwa sebagai seorang manusia sudah sewajarnya jika kita memiliki rasa malu. Adanya pikiran, hati, dan jiwa yang Allah berikan membuat rasa malu menjadi sebuah hasrat yang sudah sepantasnya dimiliki oleh seseorang. Namun, ketika kita mau menilik lebih dalam lagi, maka dapat kita mengerti adanya nilai positif dan negatif dari adanya sikap ini.
Sebagai contoh, seseorang murid yang mukanya memerah karena ia ketahuan mencontek saat ulangan harian, atau seorang karyawan perusahaan yang merasa canggung dan malu ketika menyampaikan idenya di depan pimpinan dan karyawan lain. Dan contoh yang lebih ekstrim lagi adalah ketika seorang pencuri tertangkap basah saat melakukan aksinya.
Contoh-contoh tersebut erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari di sekeliling kita. Tak jarang justru kita sendiri tanpa sadar juga telah ikut serta terjebak dengan perasaan malu ini. Dan, pada akhirnya akan muncul tembok-tembok pemisah nilai-nilai keberanian kita.
Pada dasarnya perasaan malu erat kaitannya dengan hubungannya di depan umum. Seseorang merasa panik dan terganggu ketika perbuatan atau omongannya diketahui oleh orang lain. Parasaan ini biasanya acap kali muncul karena pengaruh dari dalam dirinya sendiri. Seseorang akan merasa malu ketika ada orang lain yang mengamati dan melihat tingkah lakunya. Dan alhasil akan menyebabkan sikap yang biasa disebut “salah tingkah”.
Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali-‘Imran ; 29).
Jika kita menilik dari ayat Al-quran tersebut, dapat kita pahami bahwa sebagai Sang Pencipta, Allah memiliki kuasa untuk mengetahui segala sesuatu di alam raya ini. Dan jika kita mau merenungkan kembali, dapat kita ketahui bahwa setiap tingkah dan prilaku yang kita lakukan setiap hari selalu diamati dan disaksikan sepenuhnya oleh Allah SWT.
Kika kita mau merenungkan lebih jauh lagi, maka akan timbul rasa MALU ketika tingkah laku kita tidak sesuai dengan yang Allah harapkan. Dan pada akhirnya setiap langkah dan sikap yang kita ambil akan selalu berada di jalan cinta-Nya.
Rabu, 01 September 2010
“HIKMAH” DARI SEORANG GANDHI
Siapa gerangan yang tak mengenal Mohandas Karamchand Ghandi alias Mahatma Gandhi? Seorang karismatik yang diberi gelar Father of Nation (Bapak Negara). Dia berjuang untuk melepaskan tirani kolonialisme Inggris dengan cara civil disobedience (ketidakpatuhan masyarakat sipil) yang dibangun di atas prinsip ahimsa (non kekerasan) sehingga membawa kepada kemerdekaan India. Bahkan kelahirannya dijadikan sebagai peringatan kenegaraan Gandhi Jayanti di India, dan International Day of Non Violance (Hari Non Kekerasan Sedunia) oleh dunia internasional. Betapa banyak orang yang memuliakan dan mengelu-elukan seorang Gandhi, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Acap kali kita melihat, orang menukil dan membawa ucapan “hikmah” Gandhi yang menurut mereka penuh dengan pelajaran dan hikmah, tak terkecuali saudara kita seaqidah.
Berikut ini adalah salah satu “hikmah” Gandhi yang patut kita renungkan…
Ghandi mengatakan :
‘Mother cow is in many ways better than the mother who gave us birth. Our mother gives us milk for a couple of years and then expects us to serve her when we grow up. Mother cow expects from us nothing but grass and grain. Our mother often falls ill and expects service from us. Mother cow rarely falls ill. Here is an unbroken record of service which does not end with her death. Our mother, when she dies, means expenses of burial or cremation. Mother cow is as useful dead as when she is alive. We can make use of every part of her body-her flesh, her bones, her intestines, her horns and her skin. Well, I say this not to disparage the mother who gives us birth, but in order to show you the substantial reasons for my worshipping the cow.’ (H, 15-9-1940, p. 281)
“Sapi betina, dalam banyak hal, lebih baik dari pada ibu yang melahirkan kita. Ibu kita memberikan kita susu hanya untuk beberapa tahun lalu kemudian ia mengharapkan kita untuk melayaninya setelah kita tumbuh dewasa kelak. Sedangkan sapi betina tidak mengharapkan kita apa-apa, melainkan hanya alang-alang dan rerumputan. Ibu kita sering kali jatuh sakit dan mengharapkan pelayanan dari kita, sedangkan sapi betina, jarang jatuh sakit. Inilah catatan/record pelayanan yang tak terpecahkan yang tidak akan berakhir sampai akhir hayatnya. Ibu kita, ketika beliau meninggal, memerlukan biaya tidak sedikit untuk pemakaman atau kremasi (pembakaran mayat). Sedangkan sapi betina, tidak kalah kegunaannya semasa mati dan hidupnya. Kita dapat memanfaatkan setiap bagian tubuhnya, daging, tulang, jeroan, tanduk dan kulitnya. Saya mengatakan begini tidak untuk mencela ibu kita yang telah melahirkan kita, namun untuk menunjukkan kepada anda alasan pokok kenapa saya menyembah sapi.”
Demikianlah, salah satu “hikmah” yang diutarakan oleh Ghandi. “Hikmah” yang menunjukkan hakikat dirinya dan alasan utamanya sebagai penyembah sapi. Selain itu, Gandhi juga seringkali mengatakan, “The God is truth (sathya)” (Tuhan adalah kebenaran), dan di kemudian hari ia merubah ucapannya dan mengatakan, “truth (sathya) is god”. (The Story of My Experience with Truth).
Padahal, Alloh Ta’ala berfirman :
إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً
“Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqon : 44)
Tidak diragukan lagi, sapi termasuk binatang ternak. Dan sungguhlah benar firman Alloh Ta’ala di atas, bahwa para penyembah selain Alloh itu lebih sesat daripada binatang ternak. Lantas bagaimanakah gerangan dengan orang yang menyembah hewan ternak? Dan hikmah apakah yang dikehendaki dari orang yang lebih sesat jalannya daripada binatang ternak?!!
Semoga Alloh memberikan kita hidayah…
Berikut ini adalah salah satu “hikmah” Gandhi yang patut kita renungkan…
Ghandi mengatakan :
‘Mother cow is in many ways better than the mother who gave us birth. Our mother gives us milk for a couple of years and then expects us to serve her when we grow up. Mother cow expects from us nothing but grass and grain. Our mother often falls ill and expects service from us. Mother cow rarely falls ill. Here is an unbroken record of service which does not end with her death. Our mother, when she dies, means expenses of burial or cremation. Mother cow is as useful dead as when she is alive. We can make use of every part of her body-her flesh, her bones, her intestines, her horns and her skin. Well, I say this not to disparage the mother who gives us birth, but in order to show you the substantial reasons for my worshipping the cow.’ (H, 15-9-1940, p. 281)
“Sapi betina, dalam banyak hal, lebih baik dari pada ibu yang melahirkan kita. Ibu kita memberikan kita susu hanya untuk beberapa tahun lalu kemudian ia mengharapkan kita untuk melayaninya setelah kita tumbuh dewasa kelak. Sedangkan sapi betina tidak mengharapkan kita apa-apa, melainkan hanya alang-alang dan rerumputan. Ibu kita sering kali jatuh sakit dan mengharapkan pelayanan dari kita, sedangkan sapi betina, jarang jatuh sakit. Inilah catatan/record pelayanan yang tak terpecahkan yang tidak akan berakhir sampai akhir hayatnya. Ibu kita, ketika beliau meninggal, memerlukan biaya tidak sedikit untuk pemakaman atau kremasi (pembakaran mayat). Sedangkan sapi betina, tidak kalah kegunaannya semasa mati dan hidupnya. Kita dapat memanfaatkan setiap bagian tubuhnya, daging, tulang, jeroan, tanduk dan kulitnya. Saya mengatakan begini tidak untuk mencela ibu kita yang telah melahirkan kita, namun untuk menunjukkan kepada anda alasan pokok kenapa saya menyembah sapi.”
Demikianlah, salah satu “hikmah” yang diutarakan oleh Ghandi. “Hikmah” yang menunjukkan hakikat dirinya dan alasan utamanya sebagai penyembah sapi. Selain itu, Gandhi juga seringkali mengatakan, “The God is truth (sathya)” (Tuhan adalah kebenaran), dan di kemudian hari ia merubah ucapannya dan mengatakan, “truth (sathya) is god”. (The Story of My Experience with Truth).
Padahal, Alloh Ta’ala berfirman :
إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً
“Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqon : 44)
Tidak diragukan lagi, sapi termasuk binatang ternak. Dan sungguhlah benar firman Alloh Ta’ala di atas, bahwa para penyembah selain Alloh itu lebih sesat daripada binatang ternak. Lantas bagaimanakah gerangan dengan orang yang menyembah hewan ternak? Dan hikmah apakah yang dikehendaki dari orang yang lebih sesat jalannya daripada binatang ternak?!!
Semoga Alloh memberikan kita hidayah…
Jumat, 27 Agustus 2010
Antara sabar dan syukur
Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik.Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.
Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.
Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”“
Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.
Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??”
Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”.
Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”.
Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”.
Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”.
Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”.
Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.
Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.
Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”.
Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.
Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah
}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24)
“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)
Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai”
[1] Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)
[2] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang
Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.
Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”“
Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.
Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??”
Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”.
Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”.
Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”.
Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”.
Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”.
Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.
Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.
Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”.
Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.
Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah
}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24)
“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)
Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai”
[1] Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)
[2] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang
Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik.Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.
Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.
Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”“
Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.
Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??”
Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”.
Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”.
Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”.
Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”.
Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”.
Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.
Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.
Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”.
Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.
Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah
}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24)
“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)
Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai”
[1] Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)
[2] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang
Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.
Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”“
Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.
Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??”
Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”.
Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”.
Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”.
Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”.
Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”.
Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.
Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.
Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”.
Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.
Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah
}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24)
“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)
Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai”
[1] Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)
[2] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang



Categories :
NyentriX_zone
