Minggu, 26 Desember 2010

«Penantian Cinta dari Serambi Mekah»

commemoration of 6th year Tsumani in Acheh and North Sumatra

Hujan di sore itu tak kunjung reda juga. Padahal aku telah lama berdiam diri tak berdaya pindah dari depan toko buku itu. Badanku yang letih bercampur dengan bau keringat yang sedari tadi melekat di seragam putihku menjadi semakin apek saja. Masih ditambah lagi dengan percikan air hujan yang sedari tadi mengucurkan air derasnya. Menambah rasa kumal di badanku terasa semakin lengket dan bau.

Sudah sejam lamanya aku hanya diam bertaduh di selasar toko buku itu tanpa bisa melakukan apapun. Hanya bisa kupandangi langit yang sedari tadi mengucurkan air derasnya. Semakin cepat semakin menambah debit air yang menggenang di bawah kakiku. Dan lama kelamaan membasahi mata kakiku yang tak tertutup oleh sepatu. Sesekali kugaruk kuat lutut dan pahaku yang mulai terasa kesemutan. Terasa semakin menjalar hingga mematikan rasa seluruh kakiku.

Kucoba untuk merebahkan pantatku di selasar lantai toko itu. Terasa tak nyaman oleh hujan dan air yang mengucur dengan derasnya. Membasahi seragam yang kukenakan. Aku hanya bisa menutupinya dengan jaket kulit berwarna hitam. Mencoba menghangatkan tubuh kecilku yang mulai mengiggil kedinginan.

Aku hanya bisa memandangi langit yang menurunkan air hujan. Terlihat teratur dengan curah yang indah. Bagaikan sebuah rejeki yang adil ternbagi di setiap penjuru tempat. Tanpa ada satupun yang tak merasakan kenikmatannya.

“Subhanallah”, ucapku lirih dalam hati.

***

Jika kutatap langit yang menurunkan air hujan. Ada sebuah cerita lain yang kuingat melekat erat dalam cerita piluku. Cerita yang telah menghapuskan harapan dan semangat cintaku. Cerita yang telah memisahkan aku dengan calon istriku, Nayla Fatma Pratiwi. Seseorang yang benar-benar kuyakini akan menjadi ibu dari anak-anakku. Seseorang tokoh yang telah menghadirkan satu cerita indah tersendiri dengannya.

Namun, semuanya telah pupus menjadi satu kepahitan cerita lain. Sebuah rantai yang mulai putus kehilangan salah satu mata rantainya. Dan kini mata rantai itu telah hilang entah kemana. Menyisakan luka membekas dalam hati dan jiwaku.

Enam tahun yang lalu. Tepatnya 26 Desember 2004 semua cerita itu berawal. Cerita yang telah menghancurkan semangatku seketika melihat kondisi keluarga dan lingkunganku. Semua terasa telah habis dan musnah.

Nayla Fatma Pratiwi adalah gadis aceh yang kucintai. Sudah hampir empat tahun sebelumnya kami mengenal. Dia adalah teman dekatku sewaktu kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Aceh. Di kawasan Ulee Lheue inilah kami saling mengenal. Seakan telah menjadi sebuah takdir. Allah menghadirkan satu cinta terindah yang pernah kurasakan ini.

Semua berawal dari sebuah lomba menulis essay yang di selenggarakan oleh Depdiknas. Aku dan dia harus bersaing untuk merebutkan juara dalam lomba essay ini. Hingga akhirnya kami masuk ke final untuk memaparkan segala macam tulisan yang telah kami buat. Namun, rejeki lebih bertaruh kepadanya. Dengan bekal menulis dan daya kreatifitasnya, ia mampu menggagalkan rencanaku untuk memenangkan penghargaan ini. Dan aku harus puas untuk menjadi juara dua. Namun mulai dari sinilah aku mengenal sosok Nayla. Seorang gadis berjilbab keturunan Aceh yang sempat membuatku jatuh hati kepadanya.

Ada satu hal yang membuatku kagum melihat sosoknya. Ia adalah seseorang perempuan yang tegar dan semangat. Semuanya bisa kulihat pertama kali saat menjumpainya di final lomba essay Depdiknas. Dengan ketenangannya, ia mampu menjawab pertanyaan para pendengar. Dan bahkan kata-kata yang ia lontarkan mampu membius para juri untuk diam tak berkutik. Seakan mereka sedang menyaksikan sebuah opera drama hebat dari sebuah kursi empuk.

Dua tahun berlalu. Mulailah muncul benih-benih cinta yang kulalui. Hadir bermekaran dari lubuk hati terdalamku. Dan hinggap ke sumsum tulangku untuk mampu menghadirkan satu cerita cinta tersendiri dalam sepenggal kisah kehidupanku ini. Seakan aku telah menjadi seorang pangeran yang menemukan bidadari tercantik di lubuk hatinya.

***

26 Desember 2004
Masih teringat benar saat terakhir itu. Saat kucoba memberanikan diri untuk mengatakan sebuah pengakuan yang telah lama mengekangku ini. Sebuah perkataan yang mungkin hanya akan menjadi sebuah perasaan Maluku untuk mampu diungkapkan. Namun inilah kenyataan yang telah ku ungkapkan kepada sosok ciptaan Allah cantik bernama Nayla Fatma Pratiwi.

“Telah lama ku pendam perasaan yang selalu mengekangku ini.”, ucapku pelan.

Nayla hanya diam tak menjawab perkataanku. Seakan ia hanya menjadi pendengar setia dari setiap perkataan yang muncul dari mulutku. Dan aku laksana sebuah radio yang siap menghadirkan sebuah cerita-cerita cintanya.

Kucoba menghela nafas panjangku. Seakan bersiap menata setiap kata-kata yang siap kuluapkan. Satu per satu perkataanku mengalir menjadi sebuah puisi cinta yang begitu melekat di telinga.

Telah lama ku menanti seseorang yang menghantui pikiranku ini..

Hadir bagaikan seseorang yang membawa cahaya obornya…

Menyalakan satu cahaya lilinku yang telah lama redup…

Dan kini…

Aku ingin cahaya ini kembali semakin terang…

Dan suatu saat nanti kan mampu menyala lebih terang dengan satu cinta…

Ijinkanlah aku menyatakn satu peryataan terindah ini…

Sebuah pernyataan untuk mengatakan bahwa sebenarnya…

Mulutku diam tak meneruskan kata-kata yang kuungkapkan. Seakan aku baru menyadari satu kebodohan yang telah kulakukan. Aku bagaikan seorang yang membuka aibnya untuk mengatakan kesalahannya pada seorang puteri raja.

Dan dengan lirih kucoba mengucapkan perkataanku ini “Aku mencintaimu…”

Nayla hanya tersenyum melihat tingkah lakuku. Dia hanya menampakkan senyum simpul manisnya. Dan dengan tenang satu kalimat ia ucapkan kepadaku.

“Jika kau ingin menjadikan aku bidadari dunia dan akheratmu. Datanglah besok untuk mengkhitbahku. Temui orang tuaku untuk membicarakn semuanya. Jika Allah telah menakdirkan kita untuk bersama. Semua akan dipermudahkan.”, ucapnya sambil melangkah cepat meninggalkanku.

Aku hanya diam tak berkutik mendengar jawaban yang Nayla berikan. Ia telah memberikan kesempatan kepadaku. Kulihat Nayla berlari meninggalkanku sendiri di tepi pantai itu. Dan tanpa sadar keluarlah satu pernyataan dari mulutku.

“Nayla… jangan kau tanya kenapa aku bisa mencintaimu.. cintamu telah datang di belahan hatiku dan cintamu juga telah mengajakanku cara mencintai-Nya.”, sambutku.

Nayla diam sejenak untuk menoleh ke arahku dengan senyumnya dan ia melanjutkan langkah cepatnya untuk bergegas dari pandanganku.

***

Namun, semua telah musnah semenjak bencana Tsunami yang datang di hari itu. Seakan telah mengahncurkan satu kesempatan cintaku untuk bisa memiliki seseorang seperti Nayla Fatma Pratiwi. Dan kini aku harus merelakan kehilangan untuk menggapai asa cinta ini, Aku tak tahu tentang keberadaan dan kondisi Nayla. Aku tak tahu apakah calon isteri yang didamba itu masih hidup ataupun selamat dari musibah dahsyat ini. Namun,kucoba menyisakan sisa hidup untuk tetap bisa bertahan sejauh enam tahun ini.

Dan malam dingin itu telah memaparkan ingatanku akan masa lalu yang cukup kelam ini. Aku masih tak kuasa untuk menghapus segala memori yang terpapar jelas dalam otakku. Hujan yang deras dan dingin yang menusuk di malam itu menjadi sebuah pengingat paling busuk yang pernah kuingat. Dan tanpa sadar air mata menetes dari ketegaran dan semangatku yang ku tahan selama ini.

“Kok belum pulang, Pak?”

Suara itu membuyarkan halusinasi yang terpapar di malam itu. Kucoba untuk menolehkan asal suara tersebut. Dan kudapati seseorang perempuan berjilbab mencoba menutup pintu toko bukunya. Tak terlihat jelas wajah dan matanya. Karena ia tampak asyik membelakangiku sembari menutup pintu toko yang dari tadi kusinggahi untuk berteduh.

“Iya.. masih nunggu hujan reda.”, jawabku singkat.

“Bapak rumahnya dimana?”

“Ooo… saya di Jalan Kenari 6... Sudah mau tutup tokonya?”

“Iya.. dari tadi sepi. Nggak banyak pengunjung. Mungkin karena dari tadi hujan tak juga reda.”

Sekelebat kupandangi wajah sang pemilik toko tersebut. Seseorang perempuan yang tampak begitu anggun menggambarkan kebijaksanaanya. Tak terlihat jelas memang karena malam itu tampak terlalu gelap. Sementara lampu selasar toko sudah mulai dipadamkan. Dan yang nampak olehku hanyalah sesosok peremuan dengan jilbab birunya. Tak nampak jelas mataku untuk bisa melihat wajah dan rupanya. Hanya terlihat simpul senyum manis yang terpasang dari kedua pipi putihnya. Aku seakan dibuat terpana oleh keindahannya.

Perempuan berjilbab biru ini pun bergegas meninggalkanku di selasar toko. Membawa payungnya untuk bergegas beradu dengan hujan yang mulai tampak mereda.

Aku masih tampak terdiam melihat kepergiannya. Dan seketika pikiranku terasa mulai ganjil dibuatnya. Seakan aku pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dan pikiranku berputar seakan mengenal erat tokoh yang aku lihat dari pandanganku ini.

Kucoba membongkar seluruh memori otakku. Dan mencari satu per satu wajah yang pernah kulihat sebelumnya. Ku aduk dan ku pilah dengan sangat teliti. Dan baru kusadari bahwa nama yang kutemukan adalah

NAYLA FATMA PRATIWI

Senin, 20 Desember 2010

«Puisi Rindu Untukmu Ibu»


Dedicated to My Mom (02 Desember 1958 – 18 September 2007)

Zahra bingung bukan kepalang. Gadis kelas IV SD itu masih tampak diam tak bergerak menuliskan sepatah katapun. Ia masih asyik hanya memegangi bolpoint biru yang ia genggam di tangan kanannya. Sementara matanya memandangi seluruh ruangan kamar yang berukuran 3 x 4 ini. Dan pikirannya melayang berkelana mengarungi bintang-gemintang yang indah di malam itu.

Dua jam sudah, dia hanya duduk tak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tak seperti biasanya, ia melakukan hal yang sebodoh ini. Padahal biasanya ia adalah gadis kecil yang selalu rajin dan bersemangat dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Bahkan teman-temannya silih berganti datang untuk memintanya memandu dalam PR yang di berikan.

Namun, semuanya terasa berbeda pada PR kali ini, tak ada kegembiraan yang terpancar di wajahnya. Bahkan senyum kecil pun tak menghiasi bibirnya yang mungil. Zahra masih saja duduk terdiam di meja kecilnya. Tak satupun kata menghiasi buku tugasnya. Padahal PR itu pun telah diumumkan sekitar seminggu yang lalu. Tetapi Ia hanya asyik memandangi bintang di langit malam itu yang tampak sangat indah memancarkan keagungan-Nya.

Bukan menjadi sebuah persoalan bagi gadis SD yang selalu rajin menjadi juara kelas ini untuk bisa mengerjakan PR-nya. Dan juga bukan sebuah kesulitan bagi bocah manis ini untuk berkelana memanjakan kreatifitasnya tertuangkan menjadi sebuah tulisan-tulisan indah. Namun, ada hal lain yang membuat gadis mungil itu diam tak berkutik.

***

Seminggu yang lalu, Bu Fitri, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas kepada Zahra dan teman-temannya. Sebuah tugas yang telah mematikan daya kreatifitas Zahra selama ini.

“Anak – anak… Tahu kan kalo tanggal 22 Desember itu hari apa?”, tanya Bu Fitri.

“Hari Ibu…”, seru mereka kompak.

“Kalian saying Ibu nggak?”

“Sayang, Bu.”

“Bagus… Nah untuk itu. Ibu akan memberikan tugas untuk kalian. Coba keluarkan buku tugas kalian.” 


Dengan secepat kilat, anak – anak kelas IV itu pun segera mengeluarkan buku tugas meraka. Dan bersiap menuliskan apa yang akan Bu Fitri sampaikan.

“Nah tugasnya adalah… Hmmm…”

Bu Fitri menghela nafasnya sebentar. Ia membolak-balik halaman buku yang ia bawa. Seakan sedang mencari sesuatu yang telah hilang.

“Yak.. Tugasnya kalian membuat tulisan bebas yang kalian tujukan kepada Ibu kalian.. Bisa ucapan sayang, terima kasih, cinta, dll.”

Suasana kelas menjadi hening sejenak. Para siswa tampak begitu asyik mendengarkan penjelasan ibu guru berjilbab ini. Seakan mereka sedang terhipnotis oleh suara dan kelmbutannya.

“Nah… Tugas ini dikumpulkan minggu depan tanggal 22 Desember. Ibu akan mengambil nilainya sebagai tugas semester ini. Mengerti kan?”, seru Bu Fitri menambahkan.

***

Tugas itulah yang sempat membuat hati Zahra tercabik – cabik hatinya. Kali ini ia merasa tak mampu untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Bukan karena ia malas ataupun bodoh, melainkan karena bingung. Ia tak punya inspirasi untuk menulis.

Sejak kecil Zahra telah ditinggal ibunya. Allah telah memanggil ibunya semenjak ia bernafas di bumi ini. Ibunya harus meninggal seketika saat Zahra mulai merasakan nikmat dan kesegaran nafas di bumi ini. Dan sejak kecil pulalah ia tak lagi merasakan kasih saying ibu. Ia tak lagi bisa merasakan belai mesra seorang ibu. Bahkan ia pun tak bisa memandangi wajah manis dan pelukan sayang seorang ibu. Ia hanya bisa mendengar cerita-cerita yang selalu ia dengar dari ayahnya. Cerita yang mengenalkan dan mendekatkannya dengan sosok seorang ibu.

Dan inilah masalah terbesar yang harus Zahra hadapi. Ia tak bisa membayangkan akan kasih sayang seorang ibu. Ia tak mampu melihat dan merasakan tatapan kelembutannya. Ia hanya merasa seperti seseorang yang tak lagi sempurna.


Pikirannya terus berkelana dari satu bintang ke bintang lainnya. Seakan ia ingin memutar waktu tuk melihat perjuangan dan jerih payah seorang ibu. Dan segera ia tuangkan satu per satu tulisan di atas selembar kertas tugasnya. Menjadi sebuah untaian kalimat yang akan terasa indah untuk didengarkan. Ia coba goreskan tinta hitamnya tuk menghiasi lembaran putih itu. Tak terasa tiba – tiba air mata jatuh membasahi pipi putuhnya. Mengalir deras dari kelopak mata dan jatuh menetes di atas meja belajarnya.

***

Suasana kelas tampak semakin hening. Bu Fitri memanggil satu per satu nama siswa untuk maju ke depan kelas. Ia ingin murid – muridnya mempresentasikan hasil karya yang telah mereka buat. Tugas seminggu yang akan menjadi sebuah moment spesial untuk menghormati dan menghargai perjuangan seorang ibu.

Zahra Kumala Khairunnisa…

Nama itu terucap langsung dari mulut Bu Fitri. Dan mengharuskan langkah kecil Zahra untuk maju ke depan kelas. Parasaan bingung dan takut menyeruap seketika di hatinya. Namun, dengan langkah pasti ia coba untuk tegar menguasai suasana

“BIsmillah…”, ucapnya lirih dalam hati.

Suasana kelas semakin terasa hening. Zahra tampak siap sedia berdiri di depan kelas itu. Mempresentasikan hasil dari tugas yang telah ia kerjakan. Sebuah tugas yang sempat mebuatnya mati kreatifitas dan bakat menulisnya.

Ia mencoba menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menata hati untuk siap melontarkan suara mungilnya.

“Silakan Zahra. Kamu presentasikan apa yang telah kamu tulis di buku itu.”, seru Bi Fitri.

Zahra hanya mengangguk tanda setuju. Tiba – tiba sebuah kata seketika keluar dari mulut munginya. Dan menyusul kata demi kata lainnya untuk terangkai menjadi sebuah kalimat yang indah. Mengalun merdu menjadi sebuah lantunan harmoni yang padu.



Kala ku pejamkan mata 

Ku lihat wajahmu yang berseri 

Senyummu yang membuat hatiku merasa teduh dibuatnya 

Namun.. 

Saat ku buka kembali mataku 

Ku tahu ini semua hanyalah mimpi dan harapanku saja 

Andai aku mampu 

Ingin rasanya kucoba memandangi tatapanmu yang indah 

Tapi ku tahu ini semua hanyalah harap dan pintaku saja 

Ibu… 

Tak pernah sedikitpun terbayang akan wajahmu 

Hanya cerita orang yang kudapat darimu 

Namun yang kutahu 

Kau begitu berharga bagiku 

Kau telah mendatangkan cinta bagiku. 

Dan kini 

Semua hanya kan menjadi mimpi dan pintaku saja 

Aku hanya bisa berdoa 

Semoga kau bahagia disisi-Nya 

Semoga kau tersenyum melihatku bahagia 

Karna hanya itu yang mampu ku berikan 

Sebagai sebuah rindu pelipur lara 

Tuk berucap 

Aku rindu padamu 

Ibu…


Minggu, 19 Desember 2010

«Doa untuk Ibu» track three

Antara idul adha. bencana merapi, dan setitik asa


Emak tak hentinya menahan batuk kering di tenggorokannya. Terasa gatal dan menyakitkan untuk bisa berbicara lepas tanpa ada segelintir benda asing yang menghambat di saluran pernafasannya. Sesekali ia hirup udara segar di pagi itu untuk menghilangkan penat di pikiran yang selalu menghantui sedari malam.

Sudah semalaman ini emak tak kunjung tidur dari penjagaannya. Batuk yang menderanya sedari kemarin tak hentinya singgaj dari dirinya yang mulai rapuh. Semalaman ia hanya berkutat dengan rasa demam, pusing dan batuk yang meninmpanya. Nino, si bungsu hanya bisa memijat-mijat kaki ibunya itu. Sementara itu Adin sedari tadi keluar tanpa meninggalkan satu kesan lain.

Suara takbir yang berkumandang kencang di pagi idul adha itu hanyalah menjadi sebuah suara penggembira di tengah-tengah kepanikan ibu dan anak ini. Sesekali mata emak mencoba untuk diam sesaat memanjaakan urat-uratnya untuk sejenak beristirahat. Namun, batuk yang kembali menderanya harus menahannya untuk tetap terjaga.

“Kakak kamu mana, No?”, tanya Emak dengan suara pelan.

“Mungkin sedang ke masjid, Mak. Ngambil jatah daging.”, jawab Nino.

“Buat apa juga harus diambil. Nanti nggak ada yang masak. Kamu tahu sendiri kan Emak lagi nggak enak badan begini,”

“Iya Mak, Nino tahu kug. Tapi kan Emak sendiri yang mengajarkan kita untuk tidak nolak rejeki.”, jawab Nino polos.

“Lagipula daging itu kan memang jadi hak kita.”, lanjutnya.

“Iya bener… bener…”, seru Emak pelan.



“Tapi kamu harus ingat juga. Jika memang dah jadi rejeki kita. Pasti kan ada jalan untuk kita kug Nak.. Rejeki ga bakal kemana… yakinlah kalo ada yang ngatur… Gusti Allah” tambah emak dengan senyum simpulnya.

***

Pagi itu Nino tampak berjejal diantara orang-orang yang mengambil jatah daging kurbannya. Secarik kertas berwarna kuning itu ia genggam erat-erat untuk siap ditukarkan dengan sekantong daging sapi itu. Perjuangannya tak sepadan dengan daging yang akan ia dapati nanti. Ia harus berdesak-desakan diantara puluhan orang. Tua muda, laki bini, besar kecil semua tampak mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan satu kantong plastik berisikan daging sapi itu.

Dan kini ia harus berjejal diantara puluhan orang pencari daging kurban itu. Menukarkan secarik kertas girik berwaarna kuning itu hanya untuk sekantong daging sapi yang tak setiap tahun ia nikmati.

Peluh keringat dan panasnya udara di siang itu tak menyurutkan langkahnya untuk mau bergegas dari kerumunan para pencari daging itu. Sesekali ia coba menghirup nafas dalam untuk bisa bertahan dari padatnya orang-orang yang berkumpul tak karuan.

Satu per satu orang bergegas menukarkan girik dengan sekantong daging sapi. Dan sesudahnya, mereka bergegas meninggalkan tempat itu dengan wajah yang berbinar. Seakan telah mendapatkan sesuatu harta karun terbesar yang ia terima di tahun itu.



Dan kini giliran Nino menukarkan secarik kertas kuning yang ia genggam erat di tangan kanannya. Tampak wajah gembira setelah ia dapatkan sekantong daging terbungkus plastik hitam ini. Namun, pikirannya telah sedikit berubah. Segera ia tinggalkan tempat kerumunan penuh orang itu dengan berbagai macam perasaan yang bercampur aduk.

***

Nino tak segera bergegas menuju gubuk kediamannya. Ia masih melangkahkan semangatnya ke pasar yang tak jauh dari rumahnya itu. Ia tampak menenteng sekantong daging yang ia bawa dengan tangan kanannya. Mencoba melangkahkan kaki di sisa semangat dan pikiran yang mulai kalut.

Segera ia tuju sebuah bikik penuh dengan daging-daging sapi yang bergelantungan di setiap tempat. Ia menuju ke pasar yang menjual daging-daging ternak. Bau amis dan anyir terasa menyengat di hidung. Jalanan yang becek karena hujan semalam telah membuat persimpangan di pasar itu tampak semakin melumpur.

“Bu, bisa minta tolong ndak.”, pinta Nino memelas.

“Minta tolong apaan?”, jawab seorang pedagang.

Nino hanya terdiam. Ia mengangkat sekantong plastik hitam yang ia tenteng dengan kencangnya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Seakan menyembunyikan sebuah pertanyaan besar dari dalam hatinya.

“Minta tolong apaan, Nak?”, tanya Ibu itu mengulang.

“Ini… Bu..”, jawab Nino singkat sembari mengangkat kantong plastik.

Segera Ibu penjual daging itu mengambil daging yang Nino sodorkan dan memeriksa isinya. Dan betapa terkejutnya ketika Ibu itu mendapati bahwa isi dari kantong itu adalah sebuah daging sapi.

“Maksud kamu gimana, Nak?”, tanya Ibu itu ga paham.

Nino masih tampak diam tak menjawab. Ia mencoba mengeluarkan sepatah kata yang sedari tertahan dari mulutnya. Namun, terasa sangat susah untuk di keluarkan. Pikirannya menjadi ciut, tetapi ia harus berani mengakuinya.

“Ini semua untuk kesembuhan Emak.”, seru Nino dalam hati.

Semangat inilah yang mulai timbul di dalam dirinya. Seakan ia berniat menjual daging hewan kurban yang ia terima itu untuk dibelikan obat. Semua ia lakukan untuk kesembuhan Emak dari penyakitnya.

“Maaf Bu… Boleh kan saya menjual daging sapi ini?,”, pinta Nino kepada Ibu itu.

“Maksud kamu? Aku membeli daging sapi ini?”, dengan suara kerasnya.

Nino tak menjawab pertanyaan itu. Seakan ia merasa takut menghadapi ibu penjual daging yang semakin galak ini.

“Apa kamu nggak tahu? Aku ini penjual daging dan hari ini saja masih banyak yang nggak laku. Masak aku harus beli daging yang kau bawa.”, omel Ibu itu.

“Sudah… sudah… pergi sana… ganggu saja”, lanjutnya.



Nino semakin takut dibuatnya. Apalagi daging yang ia bawa dilempar begitu saja di hadapannya. Seakan ia ingin menangis kencang mengeluarkan air matanya. Dan rasa itu pun meluap juga. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Dan mengantar kepergiannya dari bilik penjual daging itu dengan sakit yang tersayat-sayat.

***

Nino bergegas pergi dari bilik tempat penjual daging itu. Hatinya remuk redam, seakan-akan harapannya untuk bisa membelikan emaknya obat menjadi semakin pupus. Ia semakin lemas karena udara siang yang semakin memekat itu. Ia masih menyisakan sebuah rasa pedih di pikiran dan jiwanya.

“Ya Allah… Tidakkah ada setitik asa untuk membuat emakku sembuh…”, pinta Nino di dalam hatinya.

Sembari menahan rasa sakitnya, Nino mencoba melangkahkan kakinya ke rumah. Terasa sangat berat karena harapan dan mimipinya untuk membelikan obat emak terasa gagal. Ia mencoba tetap tegar untuk bisa melangkahkan kaki dengan sisa semangatnya.

Dan tiba-tiba seorang lelaki bertubuh gempal mendatangi Nino dengan wajah sangarnya. Badan penuh tato dan kulit coklat kehitaman membuat tampang sangarnya akan semakin menjadi dengan kaca mata yang ia kenakan.

Tubuh Nino semakin terasa dingin dibuatnya. Ia merasa sangat takut dengan sosok sangar yang ia jumpai di depannya itu. Sosok ngeri yang bisa membuatnya ketakutan bukan kepalang.

“Ya Allah siapakah orang sangar yang kutemui di depanku ini.”, batin Nino dalm hati.

Ia merasa takut seakan ada harimau buas yang siap menerkamnya. Apalagi di pasar ini terkenal dengan preman dan berbagai macam orang jahat .

Seketika juga lelaki gempal itu menarik kantong plastic yang Nino bawa. Dengan secepat kilat pun Nino mencoba menghindar. Namun, tangan sang preman terasa lebih cepat menyambar bungkusan itu. Dan semenit kemudian, bungkusan itu telah dibawa oleh lelaki bertubuh gempal ini.

Nino hanya bisa melihat sekantong plastik penuh ini berpindah tangan. Melihat sang preman segera bergegas meninggalkanya tak berdaya di tengah hiruk pikuk pasar itu. Dan seakan seperti terhipnotis, Nino tak meyerukan sesuatu pun disana. Ia hanya memandangi sang preman pergi meninggalkannya sendirian.

Dan kini Nino bagaikan seorang anak yang kehilangan mainan kesayangannya. Diam terpaku di tengah-tengah keramaian pasar di siang itu. Ia hanya bisa mengucurkan air mata kesedihannya.



***

Seseorang Ibu yang terlihat hamil muda terasa terpanggil hatinya untuk mendatangi Nino di pojok pasar itu. Dandanan yang rapi terbalut dengan jibab birunya. Terasa semakin anggun dengan tas kulit yang ia tenteng di tangan kanannya.

“Kamu kenapa, Nak. Kug menangis sendirian disini.”, tanya Ibu muda itu.

Nino tak menjawab pertanyaan Ibu muda ini. Ia masih saja mengalirkan air matanya. Seakan ada satu masalah besar yang sedang menimpanya itu.

Kenapa Nak. Ceritalah padaku!!”,bujuk Ibu muda itu kembali.

Mata Nino memandangi wajah Ibu muda itu. Terasa sangat hangat dan nyaman dibuatnya. Nino segera mengusap air matanya. Ia hela nafas panjangnya. Ia kembali mencoba menata hati untuk mulai menceritakan kejadian yang telah ia alami. Dan satu per satu peristiwa ia ceritakan dengan sangat detail sehingga membuatnya menjadi lebih lega dan tegar,

Ibu muda itu hanya mengangguk mendengar cerita yang Nino sampaikan. Sesekali tangannya yang halus ia usapkan ke wajah Nino yang mulai terlihat pucat.

Seakan mengerti dengan cerita dan masalah yang Nino alami. Ia segera mengeluarkan uang dari dompet kecilnya. Dan sebuah kata pelega telah menyiramkan air mata yang telah lama mengalir di hati Nino.

“Ayo Nak sekarang kita bawa ibumu ke rumah sakit. Semua biaya akan aku tanggung.”, seru Ibu muda itu.

Kamis, 16 Desember 2010

Talkless

Senin, 13 Desember 2010

«Masihkah Tersisakah Urat Malu Kita pada Allah….?»



Tak sedikit orang MALU pidato di depan umum…
Jutaan orang MALU tuk mengaku salah…
Ribuan orang MALU menjadi orang miskin…
Tapi…
Hanya sedikit orang yang punya rasa MALU pada Sang Pencipta…

Coba kita renungkan sepenggal bait di atas. Maka kita bisa memahami bahwa sebagai seorang manusia sudah sewajarnya jika kita memiliki rasa malu. Adanya pikiran, hati, dan jiwa yang Allah berikan membuat rasa malu menjadi sebuah hasrat yang sudah sepantasnya dimiliki oleh seseorang. Namun, ketika kita mau menilik lebih dalam lagi, maka dapat kita mengerti adanya nilai positif dan negatif dari adanya sikap ini.
Sebagai contoh, seseorang murid yang mukanya memerah karena ia ketahuan mencontek saat ulangan harian, atau seorang karyawan perusahaan yang merasa canggung dan malu ketika menyampaikan idenya di depan pimpinan dan karyawan lain. Dan contoh yang lebih ekstrim lagi adalah ketika seorang pencuri tertangkap basah saat melakukan aksinya.
Contoh-contoh tersebut erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari di sekeliling kita. Tak jarang justru kita sendiri tanpa sadar juga telah ikut serta terjebak dengan perasaan malu ini. Dan, pada akhirnya akan muncul tembok-tembok pemisah nilai-nilai keberanian kita.
Pada dasarnya perasaan malu erat kaitannya dengan hubungannya di depan umum. Seseorang merasa panik dan terganggu ketika perbuatan atau omongannya diketahui oleh orang lain. Parasaan ini biasanya acap kali muncul karena pengaruh dari dalam dirinya sendiri. Seseorang akan merasa malu ketika ada orang lain yang mengamati dan melihat tingkah lakunya. Dan alhasil akan menyebabkan sikap yang biasa disebut “salah tingkah”.

 Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali-‘Imran ; 29).

Jika kita menilik dari ayat Al-quran tersebut, dapat kita pahami bahwa sebagai Sang Pencipta, Allah memiliki kuasa untuk mengetahui segala sesuatu di alam raya ini. Dan jika kita mau merenungkan kembali, dapat kita ketahui bahwa setiap tingkah dan prilaku yang kita lakukan setiap hari selalu diamati dan disaksikan sepenuhnya oleh Allah SWT.
Kika kita mau merenungkan lebih jauh lagi, maka akan timbul rasa MALU  ketika tingkah laku kita tidak sesuai dengan yang Allah harapkan. Dan pada akhirnya setiap langkah dan sikap yang kita ambil akan selalu berada di jalan cinta-Nya.




Selasa, 07 Desember 2010

met tahun baru 1432 H

Minggu, 05 Desember 2010

Islam Bukan Teroris



Meskipun
Kau cerca aku dengan jutaan fitnah mediamu
Tapi aku tak kan gentar untuk melangkah maju
Walaupun…
Kau koyak tubuhku dengan ribuan selongsong peluru
Tapi aku tak kan lari memalingkan semangatku
Biarlah…
Kau hempas badan ini dengan ratusan cambukan
Tapi aku tak kan ragu tuk menyuarakan kebenaran

Karna…
Ingin kubuktikan pada dunia, bahwa…
Islam itu cinta damai
Islam itu berprestasi
Islam itu satu
Dan dengan lantang akan kuteriakkan…
“I’m a Moslem and I’m not a terrorist”

aa.mawardhi_10

Kamis, 02 Desember 2010

Andalusia edisi Bencana

Kamis, 18 November 2010

«Almost Soulmate»

Dedicated to Anggit Prasetyo (01 Desember 1989 – 03 November 2010)

Suara ribut dan gaduh membahana dalam kelas XII IPA 1 yang berukuran sedang ini. Hawa panas yang terasa semakin penat membuat aliran keringat mengalir dengan begitu derasnya. Air conditioner yang sedari tadi telah menyala dengan penuh tak membuat suasana praktikum jam terakhir itu terasa adem. Sesekali perut yang berbunyi keroncongan ini membuat pikiran dan konsentrasiku semakin membuyar.
Rabu siang ini, jam terakhir diisi dengan praktikum Kimia. Walaupun mata pelajaran ini terasa menarik. Namun, keadaan dan kondisi keletihanku telah membuat kepenatanku semakin menjadi. Beberapa siswa tampak asyik mencampur beberapa macam larutan kimia dan mengamati hasil peragaannya sesuai modul. Dan aku hanya bisa beberapa kali menahan kantuk di meja belakang. Sesekali kututupi mulutku untuk menahan hawa kantuknya.
Suasana semakin terasa semakin penat. Karena aku harus sekelompok dengan Pras. Seorang cowok yang kurasakan sebagai sosok yang egois dan mau menang sendiri. Bagiku sikapnya yang suka menjaili teman-teman lain membuat diriku harus bersikap sedikit lebih waspada. Tak jarang bahkan aku telah menjadi bahan kejailannya. Dan baginya ini menjadi sebuah bahan lucu untuk bisa membuatku tertawa.
+++
Masih teringat jelas kejadian seminggu yang lalu. Kejadian yang sempat membuatku lebih merasa tak suka dengan sikapnya. Kejadian yang menyangkut sifat jail Pras kepadaku.
Pagi itu jam 11.00 merupakan mata pelajaran Kewarganegaraan. Banyak siswa masih terasa lelah karena mata pelajaran sebelumnya diisi dengan kegiatan olahraga. Banyak siswa yang masih merasa capek dan istirahat di kelas untuk menunggu pergantian jam pelajaran. Namun aku masih sibuk mencari baju dan rok seragam gantiku.
“Kamu nyari apaan, Putri?”, tanya Tari kepadaku.
“Ini… seragam gantiku tiba-tiba menghilang..”
“Lha tadi kamu taruh mana?”
“Tadi di sini. Pasti ada yang iseng ngumpetin seragamku.”, sahutku sambil melirik kea rah anak laki-laki yang tampak asyik mengobrol di luar.
“Maksud kamu siapa? Pras?”,
“Iya pastinya… siapa lagi kalau bukan dia.”
Segera kulangkahkan kakiku keluar ruangan berdiap untuk meluapkan kemarahan dan kekesalanku kepada anak lelaki itu.
“Pras… sini…”, teriakku
“Ada apa…. Eh, ngapain kamu belum ganti. Pak prapto dah mau masuk nie. Buruan donk…”, jawab Pras spontan dengan senyum simpulnya.
“Malah nanya lagi. Kamu kan yang ngumpetin seragamku. Buruan… dimana…?”
“Weh siapa yang ngumpetin. Kamu lupa naroh kali…”
Terjadilah perdebatan panjang disitu. Perdebatan yang membuat suasana semakin terasa panas. Aku dengan berbagai macam dugaanku telah memojokkan Pras sebagai pelakunya. Sementara itu Pras tetap bersikukuh tak mau mengakui tuduhanku.
Semua terus berlanjut hingga jam Kewarganegaraan pun mulai. Dan menjadi sebuah hal yang mengejutkan karena baju seragamku berada di laci meja guru. Pak Prapto menjadi tersenyum karena tahu seragam itu kepunyaanku. Aku hanya bisa menutupi muka Maluku sembari merasa melihat senyum puas Pras karena kejailannya.
+++



Kejadian itulah yang semakin membuat hubungan pertemananku dengan Pras mulai menjauh. Memang Pras telah berkali-kali meminta maaf kepadaku. Namun, aku merasa masih menyimpan perasaan tidak suka kepadanya. Walaupun dalam hati telah kucoba untuk memaafkan sikap dan kejailannya. Namun, jika harus mengingat peristiwa itu, terasa semakin muak aku untuk melihat tingkah dan sikapnya.
Praktikum Kimia di siang ini membuatku harus tetap berhadapan dengan sosok menjengkelkan ini. Bu Nur, guru Kimiaku telah membuat aku dan Pras menjadi satu tim praktikan. Dan selama praktikum itu, aku masih merasa asing dan tak banyak bercakap dengan sosok yang satu ini. Sesekali Pras mulai mengajakku ngobrol tetapi kucoba untuk mengalihkan ke persoalan lain. Aku masih belum bisa memaafkannya dengan sepenuh hati.
“Kamu masih marah padaku ya.. Put.”, tanya Pras kepadaku.
Aku diam tak menjawab pertanyaan Pras. Kucoba mengalihkan pandanganku ke arah dua gelas ukur yang ada di depan mejaku. Berisi penuh dengan dua larutan bening berwarna merah dan putih.
Tiba-tiba tangan Pras mencoba meraih tanganku. Ia mencoba meminta maaf dengan mengajakku bersalaman. Dan, secara spontan pikiranku terkejut dibuatnya. Seketika tanganku kuhempaskan menghindar dari raihan tangan Pras.
Tanpa sadar tanganku menyenggol gelas ukur yang berisi larutan kimia itu. Dan secara spontan menggelinding lurus jatuh menjadi beberapa kepingan kaca pecah. Hatiku semakin terasa kecut dibuatnya. Mataku hanya bisa melihat gelas ukur itu tak bersisa sedikit pun. Hanya menyisakan kepingan-kepingan kaca.
“Ada apa ini…? Kenapa…? Kenapa…?”, sapa Bu Nur.
Suasana kelas terasa hening sejenak. Suara Bu Nur yang menggelegar keras membuat semua kegiatan praktikum sedikit terhenti. Hatiku menjadi terasa bingug dan bimbang dibuatnya. Memikirkan kejadian yang menimpa tepat di depan mataku.
Aku masih terdiam membisu tak menjawab pertanyaan Bu Nur. Hatiku merasa kecil untuk berani mengungkapkan kesalahan dan kelemahanku. Maih terlihat keras dan tegasnya Bu Nur dalam membimbing setiap siswa. Dan nyaliku terasa semakin kecil untuk mampu mengakui keteledoranku.
Tanpa diduga Pras mengeluarkan argument kecil dari mulutnya. Sebuah jawaban yang sempat membuat pikiran dan otakku tak menyangka akan pengakuan dan pernyataanya.
“Maaf Bu. Tadi tanganku nyenggol gelas ukur ini dan jatuh ke lantai.”, sahut Pras sembari mendiskripsikan kejadiannya.
“Makannya hati-hati. Kalau praktikum itu jangan cuma bercanda.”
“Iya… Bu… maaf. Untuk biayanya akan saya ganti.”, lanjut Pras menambahkan.
“Bukan masalah ganti rugi. Ini masalah ketelitian kalian dalam melaksanakan praktikum….”
Siang itu pun praktikum terpaksa dihentikan karena ulahku. Gelas ukur yang pecah itu telah menjadikan sebuah peristiwa kecil penutup jam pelajaran di hari Rabu siang ini. Aku bagaikan seseorang penakut yang tak berani mengakui kesalahanku. Dan tanpa kuduga Pras telah membantuku mengatasi masalah kecil ini.
+++
Kamis pagi, suasana kelas terasa sangat ramai. Tidak seperti biasanya, pagi itu udara pagi yang sejuk harus terributkan oleh sesuatu hal yang penting. Banyak siswa yang berlalu lalang di depan pintu kelas sembari mengeluarkan air matanya.
“Ada apa, Nik?”, tanyaku penasaran.
Monik hanya terdiam membisu. Sesekali ia menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. Pemandangan itu membuatku terasa semakin tak mementu. Pikiranku penuh dengan tanda tanya besar akan kejadian yang membuatku bingung.
“Kamu udah tahu belum, Put?”, sahut Monik dengan lirih.
“Tahu apa?”, tanyaku penasaran.
“Kabar tentang Pras.”
“Ada apa dengan Pras?”
“Dia… dia…”
Ucapan Monik terhenti sejenak. Dia menghela nafas panjangnya. Terdengar sangat berat di sela-sela isak tangisnya.
“Iya…iya… Kenapa Pras?”
“Dia kecelakaan tadi malam dan kini nyawanya tak tertolong.”
“Maksud kamu?”
“Iya… Pras meninggal dunia.”
“Innalillahi wa inna ilahi ra’jiun…”
Pikiranku beratambah semakin kalut. Aku tak kuasa menahan rasa tangis yang membuyar di pikiranku. Aku hanya bisa menyesal belum bisa mengucapkan terima kasih karena kebaikan yang telah ia berikan kepadaku. Sebuah ucapan terindah yang menjadi tanda kasih seorang sahabat.

Rabu, 17 November 2010

met idul adha 1431 H

Sabtu, 13 November 2010

«Senandung Senyum Untukmu Merapi»

"masih ada setitik asa buat kita kembali tersenyum" dedicated to Merapi victims

Sore itu udara tak sesegar biasanya, hawa panas yang terasa pekat akhir-akhir ini memang semakin menjadi. Mungkin saja, semua terjadi karena kondisi Gunung Merapi yang mulai aktif menebar ancamannya. Dan bisa jadi kapanpun, merapi kan kembali mengeluarkan larva pijarnya. Menghembuskan awan panas dan memporak-porandakan seluruh kehidupan yang ada disekitar lerengnya.
            Aku masih tampak duduk diam tak berdaya di tengah kerumunan para pengungsi merapi lain. Sudah seminggu lamanya, aku menjadi saksi musibah merapi yang masih belum berhenti dari status awasnya. Awan panas masih tak henti membawa korban baru, lava dingin juga siap memberi ancaman bagi penduduk di sekitar aliran sungai, dan masih ditambah lagi hujan abu yang siap mengganggu pandangan dan pernafasan.
            Pikiran dan perasaanku semakin bertambah penat. Masih belum bisa ku lupakan saat mencekam yang telah ku lalui tadi malam. Saat-saat terakhir yang telah menghilangkan jejak seluruh keluarga kecilku. Bapak, Ibu dan dua adikku telah menghilang di terjang awan panas. Entah bagaimana nasib mereka, belum terdengar hingga saat ini. Dan aku menjadi salah satu diantara mereka yang masih selamat. Menyisakan cerita pilu yang tak kan mudah untuk kuhapus dari memori otakku.
            Tak pernah kubayangkan sebelumnya akan bencana yang ku alami ini. Namun, kini semuanya telah kembali membekas luka dalam jiwaku. Meninggalkan goresan tajam dalam ingatan. Dan aku telah menjadi saksi hidup dari semua peristiwa yang ku alami ini.
+++
            Hujan abu tak hentinya surut menemaniku sendiri terpaku di tengah-tengah para pengungsi lain. Masih tampak kecil berguguran semakin mempertebal permukaan jalan yang basah oleh hujan semalam. Menjadi kian memutih oleh campuran abu baru yang berterbangan tak beraturan.
            Para pengungsi tampak sibuk antri mengambil bahan logistik berupa pakaian. Mereka asyik berjejal dan memilah kebutuhan sandang yang mereka perlukan sehari-hari. Sementara itu, para relawan silih berganti lalu lalang membawakan kebutuhan makan ke masing-masing tenda pengungsian.
            Semua pemandangan itu tak menyurutkanku untuk beranjak dari bilik pengungsianku. Aku hanya asyik mengamati cerita-cerita yang silih berganti dari pandanganku ini. Hanya bagaikan seorang penonton setia pertunjukan yang tak sedikitpun memberi komentar pada apa yang ia saksikan.
            Sudah hampir dua hari tubuhku tak terguyur  oleh air mandi. Hanya kubilas saja saat mengambil air wudhu untuk sholat. Baju lusuh sedari kemarin lusa juga masih tetap setia kukenakan melekat di tubuh mungilku. Menutupi perut kosongku yang entah belum terisi sesuap nasipun dari semalam.
            “Min… Makan dulu tuh nasinya. Nanti keburu basi…”, bujuk Edy tetangga pengungsianku.
            “Iyo… Iyo… Nanti kalo laper kan tak makan tho…”, jawabku dengan nada agak sewot.
            “Kalo nggak. Makan roti wae. Ntar daripada kamu sakit. Malah jadi susah.”
            Aku hanya terdiam tak menjawab tawaran Edy. Kepalaku kuteduhkan di antara dua lipatan pahaku. Kucoba untuk menarik nafas panjang dari sela-selanya. Ku pandangi baju oranyeku yang mulai tampak kumal. Bahkan tulisan “SAR DIY” itu pun mulai  tampak kotor tertutupi debu yang melekat.
            Terdengar beberapa orang berbaju sama denganku tampak sibuk ngobrol di depan pandanganku. Mulut mereka tampak sibuk komat-kamit mebicarakan sesuatu. Tampak seperti seorang ahli strategi yang siap menyusun penyerangan. Sesekali mulutnya ditodongkan pada sebuah alat komunikasi genggam yang tak henti berbunyi riuh seperti radio.
+++
            Kubangkitkan tubuhku dari tempat dudukku. Segera ku ikutkan diri untuk bergabung dengan gerombolan relawan berbaju orange ini. Kupasangkan pendengaranku lebih tajam untuk mengikuti topik pembicaraan yang sedang mereka permasalahkan.
“… Besok kita akan mulai penyisiran lagi jam 08.00 atau menunggu konfirmasi dari pusat… setuju…”, kata seseorang bertopi hitam itu.
            “Kalo boleh aku ikut besok.”, sahutku mencoba memotong pembicaraan.
            Semua tampak terdiam oleh suaraku. Seakan ada petir mengelegar dari balik bukit yang lantang mencekam. Suasana terasa menjadi terdiam sekejap.
            “Begini… Mas. Lebih baik Mas disini dulu saja. Lagipula kondisi Mas kan masih belum stabil.”, sahut Edy menenangkan.
            “Tapi… Aku harus mencari keluargaku. Walaupun mereka telah meninggal sekalipun, harus bisa kupastikan jenazahnya.”, jawabku dengan suara lebih lantang.
            “Istighfar… Mas… Istighfar…. Belum tentu juga keluarga Mas sudah meninggal. Semua kemungkinan bisa saja terjadi.” Sahut Edy mencoba menenangkanku.
            Pikiranku terasa bertambah semakin kalut. Aku menjadi seseorang yang tak bisa menahan emosiku. Bahkan jika Edy tak mencoba menenangkanku, mungkin aku bisa berteriak lebih kencang.
            Tiba-tiba hujan deras menguyur ke bumi. Membubarkan kerumunanku yang mulai tampak berjejal oleh orang lain.  Membuyarkan seluruh perhatian untuk berteduh dari hujan yang mulai deras mengguyur pengungsian.
            Kuteduhkan tubuhku di bawah barak pengungsian yang sedikit bocor, atapnya yang berlubang membuat air bisa sedikit meresap jatuh menetesi orang yang ada di bawahnya. Hujan semakin tampak terlihat deras membasahi debu abu yang mulai menebal. Suara gemericiknya bersahutan dengan suara kumadang adzan di awal Ashar ini.
+++
            Sholatku terasa tak sekhusyuk biasanya. Pikiranku masih tertuju pada nasib keluargaku yang menghilang. Hanya bisa ku ikuti gerakan imam dan tanpa terasa telah berakhir dengan salam. Pikiranku melayang tak karuan pada sore hari itu.
            Di akhir sholat itu kupanjatkan sebuah harapan terbesarku pada Allah SWT. Doa terbesar yang menjadi sebuah kebimbangan dalam pikiran dan jiwaku.
            “Ya Allah, jika mungkin Kau berkehendak untuk mengambil hidup keluarga hamba-Mu. Aku ikhlaskan semuanya pada-Mu. Dan ijinkanlah hamba untuk bisa menerima dan merawat jenasahnya.”
            Kuhentikan doaku sembari menghela nafas panjangku.
            “Namun, jika Kau masih memberikan sebuah asa untuk merajut cita masa depan. Ijinkanlah juga hamba untuk bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga. Aku pasrahkan semuanya kepada-Mu. Karna hanya Engkaulah Sang Pemberi Hidup.”
            Kutundukkan pandanganku.di tikar sujudku. Memandangi pikiran kosongku pada harapan terakhirku ini.
            Tiba-tiba seseorang menepuk pundak kananku. Kutolehkan pandanganku kepadanya dan Nampak olehku Edy. Seakan dirinya berharap akan mengatakan sesuatu kepadaku. Memberi sebuah kabar penting yang akan kudengarkan.
+++
Kuikuti langkah Edy yang membawaku ke pojok bilik sholat itu. Kuperhatikan benar-benar raut mukanya yang mulai tampak lelah kecapekan. Kutatap alis matanya yang tampak hitam tebal menghiasi matanya yang tajam. Seakan ingin mengucapkan suatu pertanda untukku.
            “Begini Min… Aku ada kabar untukmu. Mungkin bisa jadi kabar baik dan juga kabar buruk.”, sahut Edy memulai pembicaraan.
            “Apa maksudmu. Buruan katakan. Jangan buat aku penasaran.”, lanjutku.
            Edy mencoba menghela nafas panjang untuk memulai ceritanya seakan ada sesuatu hal besar yang akan keluar dari ucapannya.
            “Ini mengenai keluargamu….”
            “Maksudmu?”
            “Iya… Begini…”
            “Bagaimana keluargaku?”
            “Ibu, dan dua adikmu selamat dari awan panas. Sekarang meraka dirawat di Sardjito. Kondisinya nggak lumayan parah. Tapi jangan kuatir. Kata tim meraka cuma terkilir dan luka ringan. Tapi…”
            “Tapi apa, Ed?”
            “Bapakmu belum dapat diselamatkan. Jenasahnya kini masih di Sardjito untuk diotopsi. Tadi siang tim berhasil menemukan meraka.”
            “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un…”
            Pikiranku seakan menjadi lebih tenang. Berita yang Edy sampaikan seakan telah mengobati rasa penasaranku akan kebimbangan yang kurasakan. Dalam satu sisi harus kuterima kenyataan bahwa Bapakku yelah di panggil oleh-Nya. Namun, disisi lain Allah telah memberikan sedikit semangatku untuk kembali merajut mimpi bersama Ibu dan dua adikku. Ini menjadi sebuah jawaban akan doa yang kupanjatkan. Sebuah doa yang ku luapakan sebagai sebuah untaian senyum untuk tetap menggapai asa.


Minggu, 31 Oktober 2010

Grafika edisi UTS




Sabtu, 30 Oktober 2010

«Doa untuk Ibu» Track two Kado spesial Emak dan Nino

Sore itu tak sepeser uang pun kudapati mendarat di tanganku. Walaupun pasar tampak berkerumunan penjual berlalu lalang. Namun, rejeki itu belum juga mengalir pada diriku. Aku masih tampak lunglai memperhatikan kesibukan orang yang asyik berniaga. Dan diantara ribuan pemandangan yang tampak dihadapanku. Aku hanya menjadi seorang penonton setia menikmati kesibukan ini.
Tampaknya orang-orang tak lagi membutuhkan jasa angkutku. Mereka lebih suka menyuruh pemuda-pemuda yang kuat dan perkasa untuk mengangkut bahan belanjaannya. Maklumlah usiaku yang mulai keriput membuat tenaga dan semangatku mulai memudar.
Hatiku hanya bisa mengaduh pasrah. Masih terbayang kedua anakku yang tampak setia menunggu kepulanganku. Mereka pasti berharap akan makan enak malam ini. Namun, kenyataan berkehendak lain. Bisa jadi malam ini tak ada sepiring nasi yang biasa kami hidangkan untuk mengganjal perut. Berlaukkan garam halus dan sambal terasi yang terhidang untukku dan kedua anakku. Mengantarkan kami untuk sekedar bisa tidur nyenyak malam.
Kulangkahkan kakiku lemah menyusuri jalan-jalan di pasar itu. Bau amis ikan, dan bau busuk sampah tampak menyatu menggerogoti hatiku. Kucoba untuk tetap melangkah tajam menyisakan semangat untuk tetap rindu bertemu kedua anakku.
“Ya Allah tidakkah ada rezeki halal untuk hamba-Mu hari ini… Ya Allah…”, pintaku dalam hati.
Dan tanpa sadar air mata tiba-tiba berlinang jatuh menyusuri keriput pipiku. Aku mencoba tetap tegar menerima kenyataan yang telah diberikan Tuhan kepadaku. Melangkahkan kaki dengan mantab menapaki jalan perkampungan itu.
Ragaku mulai lelah, bukan karena jasa angkut yang kujual telah laku semua. Namun terik mentari yang sedari pagi mencampakkan tubuhku. Namun aku hanya mampu untuk tetap terdiam di pojok pasar tanpa bisa melakukan satu hal sekecil pun. Hari ini terasa menjadi hari tersulit yang pernah kualami.
+++
“Mak.. mak…, hari ini Nino ulang tahun, Mak”, teriak anak bungsuku kegirangan.
Ucapan itulah yang membuat jiwaku terasa lebih remuk saat ini. Masih kuingat jelas pagi tadi, anak bungsuku itu tampak asyik membayangkan imajinasinya. Bayangan untuk bisa menikmati hal spesial dihari spesialnya. Namun, kini tak sepeser duitpun tersisa untuk sekedar memberikan hadiah kecil untuk Nino. Walau hanya sekedar makan sebungkus nasi telor.
Di sepanjang perjalanan pulangku, aku hanya bisa membayangkan betapa hancurnya hati Nino ketika mendapati ibunya datang tanpa memberikan apapun. Dia pasti akan kecewa dan hanya bisa memendam rasa tangisnya.
“Namun, tetap kuberanikan langkahku untuk menemui meraka. Karena bagaimanapun, mereka adalah anak-anakku.”, batinku dalam hati.
+++
Rumahku tampak sepi melompong. Sore itu terasa semakin sunyi ditambah dengan kondisi rumahku yang semakin memburuk. Tak terlihat kedua anakku yang biasa riang bermainan di sepanjang jalan perkampungan ini. Seakan mereka telah siap menyambutku di dalam rumah.
Ku beranikan diri untuk membuka pintu yang memang tak tertutup rapat yang mulai lapuk termakan usia.
“Assalamu’alaikum….”, sapaku dengan tenang.
“Nino… Adin…”, lanjutku.
Tak satupun dari mereka yang bergegas menghampiriku. Tak seperti biasanya mereka tampak diam tak menyambut kedatanganku. Hatiku semakin terasa kecut dibuatnya.
“Mungkin mereka marah karena tahu bila ibunya pulang tanpa membawa secarik kado hadiah diulang tahun Nino.”, batinku dalam hati.
Segera kulangkahkan kakiku untuk menuju ruang lain yang hanya terpisahkan oleh secarik kain kelabu yang mulai sobek-sobek.
“Nino… Adin… Dimana kalian..?”,seruku lebih keras.
Dan tanpa diduga ketemukan kedua anankku ini di sudut ruang. Mereka tampak duduk saling berhadapan. Di depan mereka tampak kulihat nasi kuning yang terbentuk kerucut menjulang dengan berbegai jenis makanan yang terhidang. Tak lupa juga tiga gelas air putih tampak tersusun rapi disampingnya. Hal yang membuatku semakin tak percaya.
“Subhanallah, dari mana kalian mendapatkan makanan sabanyak ini… ?”, seruku menghardik mereka.
“Kalian mencuri ya…”, lanjutku.
Kedua anakku masih terdiam tak menjawab. Wajah mereka yang semula hinggar bingar tampak berubah menjadi semakin kecut. Dan segera kupeluk kedua anakku ini.


“Sudah kubilang pada kalian berdua kan. Kita memang tak punya banyak harta melimpah. Tapi jangan sampai kefakiran kita ini membuat kita kufur pada Allah. Ingat kan Nak…”, lanjutku sembari memeluk meraka.
Kedua anakku tampak menangis dipelukan. Pemandangan yang tampak membuat hatiku semakin remuk redam.
“Iya.. Mak… Adin, Nino tahu hal itu. Kan Emak juga sering menasehati kami..”,jawab Adin sambil terisak tangis.
“Tapi, semua hasil makanan ini insyallah adalah uang halal. Kami memang sengaja mengumpulkan uang ngamen untuk sekedar mensyukuri usia yang telah Allah berikan pada Nino dan Emak.”, lanjut Nino.
“Iya… Mak… Bukankah hari ini Emak juga ulang tahun.”, seru Adin girang.
Kudekap semakin erat kedua anakku ini. Semua terasa semakin mengharu ketika kudengar ucapan bijak yang telah anak-anakku ucapkan ditelingaku. Semakin membasahi diri dengan haru air mata bahagiaku.

Jumat, 22 Oktober 2010

lomba esai berhadiah ke jerman

http://kompetisiesai.blogspot.com/

Anak Muda & Rekonsiliasi
Menyembuhkan luka sejarah adalah kerja besar. Bukan sekadar kerja satu dua tahun, tetapi mungkin puluhan tahun. Betapa pun, sebuah langkah kecil tetap harus dimulai. Kompetisi menulis esai ini bertujuan supaya anak muda bisa menuangkan pandangan pribadinya terhadap tragedi 1965 dan memulai langkah kecil sebagai rintisan awal menuju kepada rekonsiliasi. Anak muda, dalam konteks ini, adalah pemegang kunci. Karena merekalah pemilik sesungguhnya masa depan bangsa ini, tempat cita-cita rekonsiliasi didedikasikan.

Tujuan
Mengajak anak muda membicarakan luka sejarah, khususnya tragedi 1965, bagaimana anak muda memandang persoalan ini dan bagaimana sebaiknya kita –sebagai bangsa— mengambil langkah ke depan.

Mengapa Esai?
Esai adalah bentuk tulisan yang subyektif, yang menyatakan pikiran dan perasaan si penulis, sehingga merupakan bentuk tulisan yang tepat untuk konteks “Menyembuhkan Luka Sejarah–Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965” ini.

Panduan Menulis Esai
A. Umum

1. Naskah yang dilombakan merupakan karya perorangan peserta, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta belum pernah dipublikasikan di mana pun.
2. Peserta boleh mengirim lebih dari satu judul naskah, tetapi hanya dapat memenangi satu judul saja.
3. Hanya naskah yang memenuhi ketentuan-ketentuan dalam panduan ini yang akan dinilai oleh Dewan Juri; Mohon saksamai ketentuan-ketentuan berikut ini.
4. Naskah yang telah dikirim menjadi hak milik Panitia.
5. Batas akhir pengiriman naskah: Selasa, 30 November 2010, pukul 24.00 WIB.
6. Pengumuman pemenang: Senin, 10 Januari 2011.

B. Peserta

1. Yang diperbolehkan mengikuti kompetisi esai ini adalah Siswa SMA, Mahasiswa, dan Umum.
2. Batas Usia Peserta kompetisi esai ini adalah 17-25 tahun.
3. Peserta wajib menyertakan pindaian (scan) kartu pelajar (untuk SMA), kartu tanda mahasiswa (untuk Mahasiswa), kartu tanda penduduk (untuk Umum) yang masih berlaku, dimuat di Lembar Pernyataan Originalitas naskah yang dikirimkan.

C. Penulisan Esai

1. Judul bebas, sesuai tema kompetisi.
2. Format tulisan adalah esai, ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah ditulis menggunakan MS Word 97–2004, disimpan menjadi file *.doc (bukan file *.docx).
4. Cara Penamaan file: “Nama depan penulis-Judul Esai“,
5. Contoh: Rhesya-Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965.doc
6. Format dokumen naskah:
1. Ukuran kertas: A4
2. Margin atas: 2 cm
3. Margin bawah: 2,5 cm
4. Margin kiri: 3 cm
5. Margin kanan: 2 cm
6. Huruf: Times New Roman; ukuran 12 poin; rata kiri-kanan (justify); spasi 1,5
7. Urutan halaman naskah (Lembar Judul, Naskah Esai, dan Lembar Biodata) adalah sebagai berikut:
1. Lembar Judul, 1 (satu) halaman, memuat:
1. Tema
Posisi tulisan: Di bagian paling atas halaman
Huruf (Font): Times New Roman, 12 poin, Bold Italic, Align Center
2. Judul Esai
Posisi tulisan: Beberapa spasi di bawah Subtema
Huruf (Font): Times New Roman, 16 poin, Bold, Align Center
3. Ringkasan Esai
Satu paragraf rangkuman tulisan, memaparkan persoalan yang dibahas penulis dan gagasan yang ditawarkannya.
Posisi tulisan : Beberapa spasi di bawah Judul Esai
Huruf (Font) : Times New Roman; 12 poin; Regular; Spasi 1,5; Justify
Lihat contoh (Lampiran 1: Contoh Lampiran).
2. Naskah Esai, 5000-7000 karakter. Jika ada: gambar penjelas dan catatan kaki, catatan akhir (end note), atau daftar pustaka.
3. Lembar Pernyataan Orisinalitas Karya, 1 (satu) halaman, memuat:
1. Judul Naskah Esai
2. Nama Penulis/Peserta
3. Tempat & Tanggal Lahir
4. Pekerjaan
5. Domisili (Alamat Surat)
6. Alamat Email
7. Telepon, Ponsel
8. Pindaian (scan) kartu pelajar (untuk SMA), kartu tanda mahasiswa (untuk Mahasiswa), kartu tanda penduduk (untuk Umum) yang masih berlaku
Lihat contoh (Lampiran 2: Contoh Lampiran).

D. Pengiriman Karya (Naskah)

1. Naskah disimpan dalam dua format:a. MS Word 97–2004 (file *.doc; bukan *.docx) dan,b. Portable document format (file *.pdf).
2. Naskah (format *.doc dan *.pdf) dikirim sebagai lampiran (attachment) ke redaksi.esai@ gmail.com Pada kolom subjectemail, tulis: “Nama depan penulis-Judul Esai”, contoh: "Rhesya-Refleksi Kaum Muda Atas Tragedi 1965"
3. Daftar naskah dipampang di: http://kompetisiesai.blogspot.com/
4. Batas akhir pengiriman naskah: Selasa, 30 November 2010, pukul 24.00 WIB.

E. Seleksi Naskah dan Penjurian

1. Tahap penilaian terdiri dari:
1. Seleksi naskah oleh Panitia; Naskah yang tidak lolos seleksi karena kesalahan administratif bisa dikirim ulang sebelum tenggat, 30 November 2010.
2. Penjurian oleh Dewan Juri.
2. Keputusan Dewan Juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu-gugat.
3. Aspek yang dinilai (bobot penjurian):

No. ASPEK PENILAIAN URAIAN BOBOT
1. Gagasan: Orisinal, Kreatif, Aktual Orisinal: gagasan baru, belum pernah dipublikasikan sebelumnya
Kreatif: gagasan menunjukkan pemahaman baru penulis atas persoalan yang dibahas
Aktual: gagasan sesuai kekinian (ada fakta dan data) 35%
2. Kesesuaian dengan Tema/Subtema Esai selaras dengan dan tidak menyalahi tema atau subtema kompetisi yang ditentukan. 10%
3. Tuturan/Penulisan Esai ditulis dengan gaya bahasa yang komunikatif, relatif mudah dipahami. Cara bertuturnya menunjukkan pemahaman penulis yang mendalam terhadap pokok bahasan. 20%
4. Argumentasi Alur berpikir penulisnya tertib dan jelas (mudah dirunut). 35%

HADIAH
JUARA 1
Summer Course di Jerman selama satu bulan + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.

JUARA 2
Laptop/Note Book + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.

JUARA 3
Uang tunai 2.5 juta rupiah + Langganan Gratis Majalah Tempo selama satu tahun.

Rabu, 20 Oktober 2010

Sang mentari telah bersinar terik...
Namun, kabut tebal menutupi kemegahannya...
Dan begitupun kehidupan..
Walau karunia dan rezeki yang Allah berikan luar biasa megahnya…
Namun, t’kadang keangkuhan kita sering membuat kita lupa tuk b’ucap syukur…

Senin, 18 Oktober 2010

«Doa untuk Ibu» Track one

Namaku Suparni. Namun, orang-orang pasar lebih suka memanggilku dengan sebutan Mbok Ni’. Pekerjaanku sebagai kuli panggul memang tak sepadan dengan usia dan statusku. Namun, semua ini harus tetap kulakukan untuk menghidupi kedua anakku. Hanya pekerjaan inilah yang masih mampu memberiku kesempatan untuk mengais rejeki. Mencari sesuap nasi pengganjal perut di tengah himpitan kerasnya kehidupan kota Yogyakarta.
Usiaku yang telah menginjak kepala empat tak menyurutkan langkah dan semangatku untuk bisa menghidupi dan menyambung nafas kedua anakku. Anak pertamaku berusia 7 tahun. Seharusnya jika dia sempat mengenyam duduk di bangku sekolah, barangkali seragam merah putih telah ia kenakan. Namun, kemiskinan dan kemelaratan mengharuskannya berhenti dari bangku sekolah. Dan kini kehidupan jalanan yang keras harus rela dia terima dalam kenyataan hidup ini.
Aku bukanlah seorang pejuang tunggal. Lima tahun yang lalu, suamiku lah yang senantiasa memberikan motivasi terhebat untuk menerima seluruh takdir dan kuasa-Nya. Namun, dia harus kembali di dekapan Sang Ilahi karena musibah banjir. Semenjak itu, kehidupanku terasa semakin mencekam. Tak ada lagi orang yang mampu ku andalkan. Dan kini aku harus belajar untuk tetap tegar menyalakan lentera kehidupan bagi keluarga kecilku.
Setiap hari aku harus bergelut dengan para kuli panggul lainnya. Dari sebagian yang ada, hamper semuanya adalah seorang pria. Dan hanya akulah yang perempuan. Namun, semua ini tak menyurutkan langkah dan tenagaku untuk tetap memanggul barang dagangan pembeli ke mobil mereka. Justru karena kehidupan yang keras inilah, telah menerpaku menjadi seorang wanita yang pantang menyerah dengan keadaan.
Satu-satunya semangat yang selalu menyala dalam hatiku adalah kedua anakku. Mereka lah yang selalu menghiburku di saat air mataku mulai deras mengalir di kedua pipiku. Bagaikan lilin-lilin kecil yang siap menyalakan oborku yang mulai padam. Dan aku pun sempat menangis dibuatnya tatkala kudengar doa-doa yang dipanjatkan dari mulut mungil mereka. Doa-doa yang selalu dipanjatkannya di setiap habis waktu sholat.
“ Ya Allah… Berikan rizki dan kedamaian rahmat dalam hidup ibuku. Karena tak ada lagi yang mampu kuberikan pada dirinya, kecuali lantunan doa yang senantiasa kupanjatkan pada-Mu di sela-sela waktuku…”

Rabu, 06 Oktober 2010

Setitik Asa

Meskipun
Kau cerca aku dengan jutaan fitnah mediamu
Tapi aku tak kan gentar untuk melangkah maju
Walaupun…
Kau koyak tubuhku dengan ribuan selongsong peluru
Tapi aku tak kan lari memalingkan semangatku
Biarlah…
Kau hempas badan ini dengan ratusan cambukan
Tapi aku tak kan ragu tuk menyuarakan kebenaran

Karna…
Ingin kubuktikan pada dunia, bahwa…
Islam itu cinta damai
Islam itu berprestasi
Islam itu satu
Dan dengan lantang akan kuteriakkan…
“I’m a Moslem and I’m not a terrorist”

aa.mawardhi_10

Selasa, 21 September 2010

«Masihkah Tersisakah Urat Malu Kita pada Allah….?»

Tak sedikit orang MALU pidato di depan umum…
Jutaan orang MALU tuk mengaku salah…
Ribuan orang MALU menjadi orang miskin…
Tapi…
Hanya sedikit orang yang punya rasa MALU pada Sang Pencipta…

Coba kita renungkan sepenggal bait di atas. Maka kita bisa memahami bahwa sebagai seorang manusia sudah sewajarnya jika kita memiliki rasa malu. Adanya pikiran, hati, dan jiwa yang Allah berikan membuat rasa malu menjadi sebuah hasrat yang sudah sepantasnya dimiliki oleh seseorang. Namun, ketika kita mau menilik lebih dalam lagi, maka dapat kita mengerti adanya nilai positif dan negatif dari adanya sikap ini.
Sebagai contoh, seseorang murid yang mukanya memerah karena ia ketahuan mencontek saat ulangan harian, atau seorang karyawan perusahaan yang merasa canggung dan malu ketika menyampaikan idenya di depan pimpinan dan karyawan lain. Dan contoh yang lebih ekstrim lagi adalah ketika seorang pencuri tertangkap basah saat melakukan aksinya.
Contoh-contoh tersebut erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari di sekeliling kita. Tak jarang justru kita sendiri tanpa sadar juga telah ikut serta terjebak dengan perasaan malu ini. Dan, pada akhirnya akan muncul tembok-tembok pemisah nilai-nilai keberanian kita.
Pada dasarnya perasaan malu erat kaitannya dengan hubungannya di depan umum. Seseorang merasa panik dan terganggu ketika perbuatan atau omongannya diketahui oleh orang lain. Parasaan ini biasanya acap kali muncul karena pengaruh dari dalam dirinya sendiri. Seseorang akan merasa malu ketika ada orang lain yang mengamati dan melihat tingkah lakunya. Dan alhasil akan menyebabkan sikap yang biasa disebut “salah tingkah”.



Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui." Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali-‘Imran ; 29).

Jika kita menilik dari ayat Al-quran tersebut, dapat kita pahami bahwa sebagai Sang Pencipta, Allah memiliki kuasa untuk mengetahui segala sesuatu di alam raya ini. Dan jika kita mau merenungkan kembali, dapat kita ketahui bahwa setiap tingkah dan prilaku yang kita lakukan setiap hari selalu diamati dan disaksikan sepenuhnya oleh Allah SWT.
Kika kita mau merenungkan lebih jauh lagi, maka akan timbul rasa MALU ketika tingkah laku kita tidak sesuai dengan yang Allah harapkan. Dan pada akhirnya setiap langkah dan sikap yang kita ambil akan selalu berada di jalan cinta-Nya.

Rabu, 01 September 2010

“HIKMAH” DARI SEORANG GANDHI

Siapa gerangan yang tak mengenal Mohandas Karamchand Ghandi alias Mahatma Gandhi? Seorang karismatik yang diberi gelar Father of Nation (Bapak Negara). Dia berjuang untuk melepaskan tirani kolonialisme Inggris dengan cara civil disobedience (ketidakpatuhan masyarakat sipil) yang dibangun di atas prinsip ahimsa (non kekerasan) sehingga membawa kepada kemerdekaan India. Bahkan kelahirannya dijadikan sebagai peringatan kenegaraan Gandhi Jayanti di India, dan International Day of Non Violance (Hari Non Kekerasan Sedunia) oleh dunia internasional. Betapa banyak orang yang memuliakan dan mengelu-elukan seorang Gandhi, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Acap kali kita melihat, orang menukil dan membawa ucapan “hikmah” Gandhi yang menurut mereka penuh dengan pelajaran dan hikmah, tak terkecuali saudara kita seaqidah.

Berikut ini adalah salah satu “hikmah” Gandhi yang patut kita renungkan…

Ghandi mengatakan :

‘Mother cow is in many ways better than the mother who gave us birth. Our mother gives us milk for a couple of years and then expects us to serve her when we grow up. Mother cow expects from us nothing but grass and grain. Our mother often falls ill and expects service from us. Mother cow rarely falls ill. Here is an unbroken record of service which does not end with her death. Our mother, when she dies, means expenses of burial or cremation. Mother cow is as useful dead as when she is alive. We can make use of every part of her body-her flesh, her bones, her intestines, her horns and her skin. Well, I say this not to disparage the mother who gives us birth, but in order to show you the substantial reasons for my worshipping the cow.’ (H, 15-9-1940, p. 281)

“Sapi betina, dalam banyak hal, lebih baik dari pada ibu yang melahirkan kita. Ibu kita memberikan kita susu hanya untuk beberapa tahun lalu kemudian ia mengharapkan kita untuk melayaninya setelah kita tumbuh dewasa kelak. Sedangkan sapi betina tidak mengharapkan kita apa-apa, melainkan hanya alang-alang dan rerumputan. Ibu kita sering kali jatuh sakit dan mengharapkan pelayanan dari kita, sedangkan sapi betina, jarang jatuh sakit. Inilah catatan/record pelayanan yang tak terpecahkan yang tidak akan berakhir sampai akhir hayatnya. Ibu kita, ketika beliau meninggal, memerlukan biaya tidak sedikit untuk pemakaman atau kremasi (pembakaran mayat). Sedangkan sapi betina, tidak kalah kegunaannya semasa mati dan hidupnya. Kita dapat memanfaatkan setiap bagian tubuhnya, daging, tulang, jeroan, tanduk dan kulitnya. Saya mengatakan begini tidak untuk mencela ibu kita yang telah melahirkan kita, namun untuk menunjukkan kepada anda alasan pokok kenapa saya menyembah sapi.”

Demikianlah, salah satu “hikmah” yang diutarakan oleh Ghandi. “Hikmah” yang menunjukkan hakikat dirinya dan alasan utamanya sebagai penyembah sapi. Selain itu, Gandhi juga seringkali mengatakan, “The God is truth (sathya)” (Tuhan adalah kebenaran), dan di kemudian hari ia merubah ucapannya dan mengatakan, “truth (sathya) is god”. (The Story of My Experience with Truth).

Padahal, Alloh Ta’ala berfirman :

إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

“Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqon : 44)

Tidak diragukan lagi, sapi termasuk binatang ternak. Dan sungguhlah benar firman Alloh Ta’ala di atas, bahwa para penyembah selain Alloh itu lebih sesat daripada binatang ternak. Lantas bagaimanakah gerangan dengan orang yang menyembah hewan ternak? Dan hikmah apakah yang dikehendaki dari orang yang lebih sesat jalannya daripada binatang ternak?!!

Semoga Alloh memberikan kita hidayah…

Jumat, 27 Agustus 2010

Antara sabar dan syukur

Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik.Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.

Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma- . Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.

Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”“

Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.

Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensukurinya??”

Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”.

Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”.

Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”.

Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”.

Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”.

Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.

Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.

Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”.

Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.

Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah

}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24)

“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)

Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak ramai”

[1] Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)

[2] Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang