Rabu, 11 Januari 2012

MAYAT BANGUN DARI KUBUR


Jika Nauf boleh menghidupkan kuda milik Birdlaun milik Raja Faris atas izin Allah, maka Nabi Isa boleh menghidupkan orang yang sudah mati atas izin Allah juga. Itulah mukjizat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk menunjukkan kebesarannya.
Tapi dasar orang kafir, walaupun Nabi Isa boleh menunjukkan mukjizat menghidupkan orang yang sudah mati, mereka masih menyangkalnya. "Sesungguhnya engkau hanya dapat menghidupkan mayat yang baru yang ada kemungkinan memang belum mati benar. Cuba kau hidupkan mayat-mayat terdahulu jika kau boleh." Ujar mereka. Merasa ditentang kaumnya, Nabi Isa lalu berkata : "Silakan pilih mayat sekehendakmu," jawabnya.

"Cuba hidupkan Sam dan Nuh," kata mereka.
Kemudian Nabi Isa pergi ke makam Sam dan Nuh. Setelah bersembahyang di atas kuburnya, Isa berdoa kepada Allah meminta Allah menghidupkan mayat itu. Atas kekuasaan Allah kedua mayat yang sudah lama meninggal it bangkit kembali dari kuburnya. Rambut di kepala dan rambutnya sudah memutih.
Begitu melihat keduanya hidup kembali, Isa bertanya, "Mengapa rambutmu sudah memutih semacam itu,". Keduanya lalu menjawab bahawa mendengar panggilan Isa, ia mengira hari kiamat sudah tiba. "Berapa lama kau sudah meninggal?" tanya Isa. "Empat ribu tahun, tetapi sampai sekarang belum hilang rasa sakit matiku." Jawabnya.Melihat mukjizat Allah, berimanlah semula orang-orang yang kafir itu.

Senin, 09 Januari 2012

Sekali – Kali Kita Perlu Makan Bareng Tukang Becak


Tahukah kamu kekayaan yang paling berharga buat manusia??

Terinspirasi oleh :  tukang bangunan dan tukang becak
Jakarta, 08 januari 2012



Pernahkah kau bayangkan apa kekayaan yang paling berharga buat manusia…?
Coba kau pikirkan sejenak…
Kau renungkan dalam dirimu…
Dan kita jawab dari hati kita masing – masing…

Harta benda…
Kekayaan yang bisa membuatmu membeli apapun yang kau inginkan…
Materi yang mampu memberikan manusia berbagai kelimpahan ekonominya…
Namun kadang tak jarang justru meneroboskan manusia ke lumbung kehinaan…
Karena kegilaan akan harta benda yang membuatnya menghalalkan segala cara…
Hanya tuk memperkaya diri mengejar prestasi dunia…

Ilmu dunia…
Pengetahuan dan teknologi yang dapat pintu gerbang kebodohan…
Seakan menunjukkan antara masa lalu dan masa depan yang begitu dekatnya…
Namun kadang tak jarang yang menggunakannya untuk kemaksiatan…
Karena keinginan menguasai dan membodohi orang lain…
Hanya tuk sekedar mencari kekuasaan yang tak kekal…

Tahta…
Kedudukan terhormat status manusia dihadapan yang lain…
Memperlihatkan seberapa berharganya status sosial manusia…
Namun tak kadang pula justru membuat orang jadi gila…
Karena berebut tahta dan kursi kekuasaan…
Hingga saling menjegal dan menghimpit teman lainnya…

Begitulah kehidupan…
Hingga artinya satu jawaban tersampaikan…
Kekayaan apa yang paling berharga buat manusia…
Kekayaan materi, fisik, sosial?
Bukann…
Orang paling beruntung di dunia…
Bukan orang yang paling kaya, bukan orang berkuasa, dan bukan orang terpandai…
Tapi…
Orang yang bersyukur…

Mungkin terkadang kita perlu sejenak menyempatkan diri tuk makan bareng dengan tukang becak, tukang batu bata, buruh pabrik dll. Ketika kita menyaksikan cara mereka makan. Terlihat jelasa bahwa mereka makan hanya sekedar tuk mengisi perut. Meskipun hanya dengan lauk pauk yang sehariannya hampir sama (tempe – tahu). Tapi lihatlah muka mereka, tetep tersenyum menikmati lauk makan yang ada. Sebagai pengobat lelah aktifitas sehari – hari mereka.

Berbeda dengan diri kita, masih ada di antara kita yang ketika masuk ke rumah makan. Mulai bingung memilih menu makanan. Hanya tuk sekedar memanjakan nafsu sejenak. Yang tak kan pernah bertahan berjam – jam masuk ke perut kita. Hingga terkadang kita di buat terlena dan lupa tuk sejenak bersyukur. Dan tak jarang pula yang kelupaan berdoa mengawalinya.

Semoga kita di jauhkan dari hal – hal sedemikian…
Tetap SMANGADZ…
Melihat ke atas ada optimiz perjuangan bergelora…
Melihat ke bawah ada kesyukuran atas nikmat yang telah kita terima…

Sabtu, 07 Januari 2012

Emang ada yang lebih kejam dari IBUKOTA?

Kenapa harus Jakarta gitchu loch

Terinspirasi oleh :  hujan, banjir, macet, ruwet
Jakarta, 07 januari 2012



Suara klakson membahana keras memekikikan telinga…
Membuat orang yang berlalu lalang menutup kupingya…
Lalu lalang para pekrja yang melintasi jalanan padatnya…
Kenapa harus Jakarta gitchuu loch??

Sampah menumpuk hingga puluhan meter…
Hingga banjir dan bau busuk jadi pemandangan harian…
Menempati sela – sela bangunan megah yang menjulang tinggi…
Kenapa harus Jakarta gitchu loch??

Para pengemis dan anak jalanan yang berkeliaran…
Mencari sesuap nasi dari kehidupannya yang tak tentu…
Menjadikan selasar toko dan lorong jembatan bak tempat tinggalnya…
Kenapa harus Jakarta gitchu loch??

Emang ada yang lebih kejam dari Jakarta?
Mulai dari para pejabat yang menghamburkan duit dengan mudahnya…
Sementara di satu sisi…
Para pemulung mencari sampah tuk membeli beras sisa ceceran…

Emang ada yang lebih kejam dari Jakarta?
Mulai dari gedung – gedung megah yang mententeng menjulang langit…
Sementara di satu sisi…
Gubuk – gubuk kardus mentereng di pinggiran sungai…

Emang ada yang lebih kejam dari Jakarta?
Mulai dari para pejabat yang berebut kursi kekuasaan…
Sementara di satu sisi…
Masyarakat miskin berebut beras bantuan…

Kalau ditanya bagaimana mengurangi banjir di Jakarta?
Jawabanya cuma kesadaran manusianya…
Agar warga mulai mengerti lingkungannya…
Sampah terbentang… Air menggenang…

Kalau ditanya bagaimana mengurangi kemacetan di Jakarta?
Jawabannya cuma kesadarang warganya…
Agar mau menjalani lalu lintas dengan taat…
Kesadaran 0 %... Kemacetan 100 %...

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)
(QS. ArRuum :41-46)

Senin, 02 Januari 2012

Film "Hafalan Shalat Delisa" Berkisah Tentang Tsunami Aceh



TANGGAL 22 Desember lalu, ada dua momen yang dilaksanakan berbarengan dengan peringatan tujuh tahun tsunami Aceh, yang pertama adalah Seminar Nasional bertajuk "Peningkatan Peran Perguruan Tinggi dalam Manajemen Bencana" dalam rangka refleksi (lesson learned) 7 Tahun Tsunami Aceh dan Arahan Kebijakan Manajemen Bencana di Indonesia yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan sekaligus pemutaran perdana di bioskop film fiksi tentang tsunami Aceh yang berjudul "Hafalan Shalat Delisa." 

Seminar Nasional ini menghadirkan keynote speech Prof. Dr. Sudibyakto (Unsur Pengarah BNPB) dengan materi Peluang dan Tantangan Perguruan Tinggi dalam Manajemen Bencana (Belajar dari Negara Maju dan Indonesia), dan pemateri berikutnya yaitu yaitu Ir. Budi Atmadi Adiputro (Sekjen PMI Pusat) dengan materi Lesson Learned dari Pengalaman Menangani Bencana Tsunami Aceh, Dr. Danang Sri Hadmoko, M. Sc (UGM) dengan materi Risiko Multi Bencana di Indonesia, Prof. Sarwadi, MSCE, Ph. D (Guru Besar UII/Pengarah BNPB) dengan materi Lesson Learned Hasil Monev Penanggulangan Bencana di Indonesia. Acara seminar ini juga sekaligus dengan Pembentukan Student Association for Disaster Management (Asosiasi Mahasiswa Peduli Bencana) dari beberapa universitas di Indonesia. 

Seminar ini dihadiri hampir 300-an peserta yang memenuhi ruang seminar Lantai 5 Gedung Lengkung Pascasarjana UGM. Dari beberapa pemateri, saya mencatat beberapa poin penting dari pemaparan Pak Budi (Sekjen PMI Pusat) yang di awal presentasi memutar film dokumenter bencana Wasior, Mentawai, dan Merapi. Pak Budi pernah menjabat sebagai Kepala Staf Darurat Operasi yang sehari-hari memimpin operasi tsunami di Aceh selama hampir 3 bulan pertama bencana. Menurut Pak Budi ada tiga kata kunci yag menjadi konsep dalam manajemen bencana yaitu cepat, tanggap, dan terkoordinir. Dan juga yang penting yaitu masalah kemanusiaan harus diutamakan di atas segala kepentingan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya. 

Film "Hafalan Shalat Delisa"Film Hafalan Surat Delisa yang diputar perdana serentak di seluruh jaringan bioskop pada Kamis (22/12/2011) diangkat dari novel laris berjudul sama karya Tere Liye yang disutradarai Sony Gaokasak dan diproduseri Chand Parwez Servia (Starvision). Pengambilan gambar dilakukan di Ujung Genteng, Sukabumi Selatan. Penyanyi Aceh, Rafli juga ikut terlibat dalam film ini dan menyanyikan musik pengiring film. 

Dikisahkan bahwa Delisa (Chantiq Schagerl) sedang mengikuti ujian praktik hafalan shalat di sekolahnya saat tsunami menghantam kawasan Lhoknga, Aceh Besar. Saat itu, Delisa mengingat kata ustad Rahman (Fathir Muchtar) untuk khusyuk atau fokus saat beribadah, sehingga Delisa tidak mendengar teriakan Ummi dan orang tua lainnya di sekolah saat itu untuk menyelamatkan diri dari tsunami dan meninggalkan ujian praktik hafalan shalat. 

Delisa hanyut dan akhirnya ditemukan oleh relawan dari AS, Smith (Mike Lewis). Kaki kiri Delisa luka dan terpaksa harus diamputasi. Delisa tinggal sebatang kara hingga ayahnya, Abi Usman (Reza Rahardian) yang selamat karena bekerja di kapal menemuinya di rumah sakit. Ayahnya selamat sedangkan Ummi (Nirina Zubir) dan ketiga kakak Delisa, Fatimah (Ghina Salsabila), Aisyah (Reska Tania Apriadi), dan Zahra (Riska Tania Apria) serta teman sepermainannya banyak yang menjadi korban tsunami. Walaupun kakinya tinggal satu, Delisa tetap mampu bertahan dan memberi semangat kepada teman-teman dan orang-orang yang disayangi untuk tidak mudah putus asa. 

Saat saya menonton, banyak keluarga yang membawa anaknya dan pemuda-pemudi muslim yang jarang ke bioskop mengkhususkan diri untuk menonton film ini karena kisah tsunami Aceh dan kisah agama yang diangkat. Tapi film ini menurut saya minus riset tentang kondisi di Aceh saat tsunami dan konteks budaya. 

Tokoh Fatimah di awal adegan melafalkan meunasah dengan munasah, dan perawat lokal saat di rumah sakit tidak berpakaian sesuai kaidah syariat, dan terjadi kerancuan saat ada dua relawan asing yaitu Smith dan Sophie mengajak ngobrol Delisa saat di rumah sakit dengan bahasa asing tanpa disertai penerjemah, sehingga Delisa tidak memahami apa yang mereka katakan. Film ini juga sarat dengan teknologi CGI (computer graphic integrated) saat memvisualisasikan tsunami, kapal induk, helikopter, areal tsunami, dan efek surga. 

Walaupun berasal dari novel fiksi karya Tere Liye, tapi saya dan keluarga saya sudah pernah mendengar nama Delisa pada saat masa penyembuhan tsunami. Ayah saya, Mukhlis A. Hamid saat menjadi relawan di rumah sakit lapangan Danish Emergency Mobile Hospital (DEMH) di Fakultas Kedokteran Unsyiah menyebut nama Delisa Fitri yang saat tsunami berumur 7 tahun yang terpaksa harus diamputasi kakinya di rumah sakit lapangan itu pada Januari 2005. Berita tentang Delisa yang diamputasi pernah dimuat di koran Denmark. Dan hari ini keberadaannya sudah tidak diketahui lagi setelah keluar dari rumah sakit. 

Banyak penikmat film di Aceh yang mengharapkan agar film "Hafalan Shalat Delisa" dapat diputar di Ace
h pada saat peringatan tujuh tahun tsunami ini. Sayangnya tsunami juga menggulung satu-satunya bioskop di Aceh saat itu sehingga orang Aceh saat ini jika ingin menonton film minimal harus ke Medan.  ***

source : 
http://aceh.tribunnews.com/2011/12/28/film-hafalan-surat-delisa-berkisah-tentang-tsunami-aceh

TANDA-TANDA KIAMAT


Hudzaifah bin As-yad al-Ghifary berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad S.A.W kepada kami lalu bertanya, "Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?"






Lalu kami menjawab, "Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat."
Sabda Rasulullah S.A.W. "Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda :-


· Asap 
· Dajjal 
· Binatang melata di bumi 
· Terbitnya matahari sebelah barat 
· Turunnya Nabi Isa A.S 
· Keluarnya Yakjuj dan Makjuj 
· Gerhana di timur 
· Gerhana di barat 
· Gerhana di jazirah Arab 
· Keluarnya api dari kota Yaman menghalau manusia ke tempat pengiringan mereka.


Dajjal maksudnya ialah bahaya besar yang tidak ada bahaya sepertinya sejak Nabi Adam A.S sampai hari kiamat. Dajjal boleh membuat apa sahaja perkara-perkara yang luar biasa. Dia akan mendakwa dirinya Tuhan, sebelah matanya buta dan di antara kedua matanya tertulis perkataan 'Ini adalah orang kafir'.


Asap akan memenuhi timur dan barat, ia akan berlaku selama 40 hari. Apabila orang yang beriman terkena asap itu, ia akan bersin seperti terkena selsema, sementara orang kafir pula keadaannya seperti orang mabuk, asap akan keluar dari hidung, telinga dan dubur mereka.


Binatang melata yang dikenali sebagai Dabatul Ard ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabatul Ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa A.S dan cincin Nabi Sulaiman A.S.
Apabila binatang ini memukulkan tongkatnya ke dahi orang yang beriman, maka akan tertulislah di dahi orang itu 'Ini adalah orang yang beriman'. Apabila tongkat itu dipukul ke dahi orang yang kafir, maka akan tertulislah 'Ini adalah orang kafir'.


Turunnya Nabi Isa. A.S di negeri Syam di menara putih, beliau akan membunuh dajjal. Kemudian Nabi Isa A.S akan menjalankan syariat Nabi Muhammad S.A.W.
Yakjuj dan Makjuj pula akan keluar, mereka ini merupakan dua golongan. Satu golongan kecil dan satu lagi golongan besar. Yakjuj dan Makjuj itu kini berada di belakang bendungan yang dibangunkan oleh Iskandar Zulqarnain. Apabila keluarnya mereka ini, bilangannya tidak terhitung banyaknya, sehingga kalau air laut Thahatiah diminum nescaya tidak akan tinggal walau pun setitik.


Rasulullah S.A.W telah bersabda, " Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit sahaja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi di merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq"


Berkata Ali bin Abi Talib, Akan datag di suatu masa di mana Islam itu hanya akan tinggal namanya sahaja, agama hanya bentuk sahaja, Al-Qur'an hanya dijadikan bacaan sahaja, mereka mendirikan masjid, sedangkan masjid itu sunyi dari zikir menyebut Asma Allah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu ialah para ulama, dari mereka akan timbul fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga. Dan kesemua yang tersebut adalah tanda-tanda hari kiamat."


Sabda Rasulullah S.A.W, "Apabila harta orang kafir yang dihalalkan tanpa perang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar lain daripada agama, orang lelaki taat kepada isterinya, menderhakai ibunya, lebih rapat dengan teman dan menjauhkan ayahnya, suara-suara lantang dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari orang yang fasik, oarng dimuliakan kerana ditakuti akan tindakan jahat dan aniayanya dan bukan kerana takutkan Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamata."

Sabtu, 31 Desember 2011

Akhir Yang Mengawali…


Semua kan mengalir hingga waktu terhenti

Terinspirasi oleh : tetes deru air mata
Yogyakarta, 31 Desember 2011

Bukan…
Air mata itu bukan cuma pertanda kesedihan…
Namun…
Air mata itu pertanda senyuman hati yang ikhlas…

Bukan…
Ini bukan akhir dari segalanya…
Namun…
Ini adalah awal dari cerita nyata yang kan dimulai…

Berhentilah menangis…
Jika air mata itu hanya menyiksamu…
Berhentilah tersenyum…
Jika senyuman itu hanya sekedar tipuanmu…

Sahabat…
Aku ndak ingin melihatmu menangis…
Jika itu hanya sekedar tangisan kesedihanmu…
Tapi mengangislah…
Karena tawa bahagia yang kau rasa…

Sahabat…
Aku ndak ingin melihatmu tersenyum…
Jika itu cuma sekedar dimulutmu semata…
Tapi tersenyumlah…
Karena hatimu yang berbahagia…

Teruslah tersenyum dan menangis sahabatku…
Hingga air mata dan senyumanmu kan mengingatkanku akan cinta – Nya…

Sabtu, 05 November 2011

“Saya kan bukan orang kaya… Terus mau Qurban apa? Qurban perasaan…??”(Belajar Dari Ibrahim a.s)


Belajar tentang shodaqoh dan Qurban

 
Terinspirasi oleh:  Q.S Ash Shaaffat: 100 - 111
 Sumber : Ust. Yusuf Mansyur @ Wisata Hati
Temanggung, 05 November 2011

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.” Q.S Ash Shaaffat: 100

Sepenggal ayat tersebut menjadi sebuah doa harapan terbesar dari Nabi Ibrahim a.s. Karena pada saat itulah beliau dengan segala kerendahan hatinya memohon kepada Allah agar dikaruniakan seorang anak dambaan. Seorang anak yang udah bertahun – tahun dinantikan kedatangannya. Sejenak akan kugambarkan dalam sepenggal syair berikut.


Belajar dari Ibrahim…
Dengan berpasrah diri dan kerendahan hatinya dia meminta…
Pada Allah, Sang Maha Cinta…
Akan kehadiran seorang anak yang didamba…
Hingga akhirnya Allah pun mengabulkan doanya…
Namun semua belumlah berakhir ceritanya…
Karena Allah ingin menguji keikhlasan hati sang ayah pada anaknya…
Meminta Ismail sebagai kurbannya…
Dengan kesabaran dan keikhlasan rasa…
Akhirnya Allah menggantinya dengan domba…
 


Mungkin bisa kita bayangkan betapa terpukulnya sang nabi ketika harus menerima perintah Allah ini. Kehilangan cinta yang begitu lama ia nantikan kedatangannya. Dan akhirnya semua dari ujian yang Allah berikan terjawab dengan digantikannya dengan perintah untuk kurban domba. Disinilah awal mula kisah dan kewajiban kita untuk melaksanakan ibadah kurban.

Dan ketika kita analogikan di kehidupan kita sehari – hari. Yupz Allah menguji kita dengan kehilangan hal – hal yang kita cinta. Sebuah cobaan ketika kita harus menerima keadaan pahit untuk merasakan kehilangan benda, orang, harapan, mimpi, target yang kita cinta. Padahal kita sangat menginginkan hal – hal yang kita cinta ini.

Disinilah kita sedang diuji untuk mengetahui seberapa besar rasa cinta kita kepada ciptaan – Nya dibandingkan rasa cinta kita pada Allah. Memang sepantasnya kita tidak menyia – nyiakan anugerah cinta yang telah Allah berikan. Namun, disinilah kita perlu mengingat bahwa semua yang kita rasakan ini adalah anugerah dan nikmat dari Sang Maha Cinta. Tak seyogyanya juga kita terlalu membesar – besarkan rasa cinta kita pada makhluk. Hingga akhirnya kita hanya berharap agar rasa cinta kita pada dunia ini akan semakin mendekatkan diri kita pada cinta Allah.

Ketika cinta datang kepadamu…
Sambutlah dengan sewajarnya rasa…
Dan janganlah kau menyia – nyiakannya…
Sebelum Allah kembali mengambil rasa mu…
Karena justru menjerumuskanmu ke sengsara…
Hingga akhirnya satu pinta dalam doa…
Semoga rasa cinta ini semakin mendekatkan kita pada – Nya…
Sang Maha Cinta…



Namun… biasanya ada satu pertanyaan bergeliat dalam pikiran kita “Saya kan bukan orang kaya… Terus mau Qurban apa? Qurban perasaan??”
Hmm… tentu saja tidak. Allah telah memberikan kita batas kemampuan yang berbeda – beda. Adaorang kaya ada pula orang belum kaya. Ada orang sukses ada pula orang belum sukses.Nah disinilah kita punya kapasitas masing masing untuk melalukan Qurban kita. Sejenak penulis ingin mendengdangkan sebuah syair penutup untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Bukankah Allah Maha Adil…
Semua orang meiliki kapasitasnya masing – masing…
Akan kemampuan dan kebutuhannya…

Tak perlu menunggu dirimu kaya…
Tak perlu menunggu dirimu suksez…
Tak perlu menunggu dirimu banyak harta…
Untuk mengorbankan cintamu pada – Nya…
Karena Allah Maha Segalanya…


Bukankah kau punya telinga…
Yang bisa kau korbankan untuk mendengarkan kebaikan…
Bukankah kau punya mata…
Yang bisa kau korbankan untuk melihat kebaikan…
Bukankah kau punya mulut…
Yang bisa kau korbankan untuk melantunkan dzikir kebaikan…
Bukankah kau punya waktu…
Yang bisa kau korbankan untuk menuju langkah kebaikan…

Dan akhirnya…
Kepada kitalah semua kebaikan itu akan kembali…

NB: afwan… tidak bermaksud untuk menggurui atau mengajari. Tapi inilah harapan dan keinginan dalam hati agar kita selalu berada di jalan cinta – Nya. Maaf jika ada kekungan n kekhilafan dalam penulisan, kelebihan n kebenaran hanya milik Allah semata.  Saling berbagi inpirasi, saling mengingatkan. Semoga bermanfaat nggih. SMANGADZ. ^^V

Sobat…
Selamat idul adha 1432 H. Mg kita kan menjadi pribadi yang bisa membangun cinta lebih bijak. Mengajarkan kita tentang keikhlasan dan kesederhanaan. Untuk saling berbagi cinta pada sekeliling kita. SMANGADZ…


Kamis, 03 November 2011

Alhamdulillah Ya… Sesuatu


Ibadah kecil yang kadang lupa kita lakukan adalah bersyukur



Terinspirasi oleh:  sang mentari pagi yang menghangatkanku
Temanggung, 03 November 2011

Mr. X bertemu dengan sahabatnya mr. Y di mushola teknik itu. Karena mereka sudah lama tak  pernah bertemu, akhirnya dua sahabat itu pun saling mengumbar obrolan kerinduan mereka. Berikut sepenggal pembicaraan awal mereka.
x : Assalamu’alaykum bro…
y : Wa’alyakumsalam mas bro…
x : Piye kabare?? Wis suwe gak kethok… 
       (Apa kabar?? Udah lama ndak keliatan)
y : Alhamdulillah sehat… Piye awakmu? 
      (Alhamdulillah sehat, Gimana denganmu?)
x : Alhamdulillah… Eh piye saiki sibuk apa?
     (Eh sekarang sibuk apa nih?)

Nampaknya ndak ada yang aneh dengan pembicaraan tersebut. Namun, sejenak ketika kita perhatikan ada satu hal yang lebih menonjol yaitu tentang kata “Alhamdulillah”. Secara kosakata, Alhamdulillah berasal dari kata Al-Hamdulillah (الحمد لله) yang berarti "Pujian itu hanya untuk Allah", merupakan ungkapan atas rasa terima kasih seorang muslim atas karunia Allah. (Wikipedia).

Dan secara khusus dapat kita maknai sebagai sebuah ucapan syukur kita pada Allah atas karunia yang telah Allah berikan kepada kita.

Ooops, namun terkadang ada hal yang membuat kita lupa sejenak. Bayangkan saja ketika ada sahabat atau teman kita yang menanyakan kabar ke diri kita. Dan dengan simple kita bisa menjawab “Alhamdulillah baek”. Hmmm… terasa begitu mudah dan hambar untuk kita ucapkan. Sehingga kadang rasa syukur kita itu pula hanya terasa sangat hambar.

Lihatlah sang mentari pagi yang bersinar itu…
Meskipun mentarinya yang terik telah menyinari bumi…
Namun, kabutnya yang tebal terasa telah menutupi pancarannya…
Meskpun anugerah yang Allah berikan begitu banyak berlimpah…
Namun, kadang hati kita lupa untuk berucap syukur…
Alhamdulillah…

Yupz, memang terasa  sangat hambar ketika kita mengucapkan kata “Alhamdulillah” tanpa sebuah rasa yang kita keluarkan dari hati. Hanya sebuah kalimat kebiasaan yang kita alirkan begitu saja dari mulut kita. Tanpa ada sebuah pemaknaan katanya. Dan akhirnya bisa jadi kita seperti orang mabuk yang hanya sekedar melakukan aktifitas tanpa ada pemikiran dalam otaknya. Naudzubillah Mindzalik…

Nah, sejenak mungkin kita perlu mencoba hal lain ketika mengucapkannya. Sejenak sebelum kita mengucapkan kata tersebut. Kita tenangkan diri sejenak, kita rasakan anugerah dan nikmat yang telah Allah berikan selama ini. Dan kita tarik nafas kita dalam – dalam. Hingga akhirnya kita keluarkan sebuah kalimat yang pendek tapi sarat arti ini. Alhamdulillah…

Rasakan sejenak udara yang selalu gratis terbagi untukmu…
Mengalir mudah dari lingkungan sekitar…
Masuk ke dalam hidung dan tenggorokan…
Hingga masuk ke dalam selaput paru – paru…
Terasa akan semakin nikmat ketika kita rasakan artinya…
Bahwa semua yang kau rasakan adalah anugerah luar biasa…
Dari Sang Maha Cinta… 

Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)


Sobat…
Sejenak kita rasakan nikmat dan karunia yang Allah berikan masih begitu banyak dibandingkan masalah – masalah yang berdatangan. Di sinilah kita mungkin sedang di ajarkan sebuah hikmah untuk tetap mensyukuri sekecil apapun nikmat yang telah Allah berikan pada kita. Hingga akhirnya kita dapat mensyukuri nikmat ini dari hati, kata, dan sikap kita sehari – hari.

NB: afwan… tidak bermaksud untuk menggurui atau mengajari. Tapi inilah harapan dan keinginan dalam hati agar kita selalu berada di jalan cinta – Nya. Maaf jika ada kekungan n kekhilafan dalam penulisan, kelebihan n kebenaran hanya milik Allah semata.  Saling berbagi inpirasi, saling mengingatkan. Semoga bermanfaat nggih. SMANGADZ. ^^V


Selasa, 01 November 2011

ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA


Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."

Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."

Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

Mantan Maling dan Mantan Ustadz

Karena hati ibarat gelombang yang kan terus berubah - ubah

Terinspirasi oleh:  mentari pagi yang bersinar
Temanggung, 01 November 2011



“Hati dinamakan qolb karena sifatnya yang cepat berubah. Hati itu bagaikan bulu (ayam) yang tergantung di atas sebuah pohon, yang dibolak-balikan oleh angina sehingga bagian atas terbalik ke bawah dan bagian bawahterbalik ke atas.”
(HR. Ahmad)


Mas’e… Mbak’e…
Mungkin kalau kita pernah nonton film “Dalam Mihrab Cinta” ataupun membaca novel karya
Habbiburahman El Shirazy itu, mungkin kita bisa melihat sosok Syamsul yang berproses dalam hatinya. Dia yang sebelumnya adalah seorang anak pesantren harus beralih diri menjadi seorang pencuri. Hingga akhirnya Allah menetapkan kembali hatinya untuk hijrah ke kebaikan. Atau mungkin dalam kehidupan kita sering mendengar kisah tentang mantan ustadz yang justru berubah menjadi orang jahat dan juga tentang mantan maling yang berubah menajdi ustadz.



Hati ibarat gelombang yang kan terus berubah – ubah…
Kadang suatu saat keimanan kita berada di puncak paling tinggi…
Dan tak jarang pula keimanan kita jatuh terjermbab ke lembah terdalamnya…
Disitulah kita perlu menjaga hati…
Agar dapat selalu istiqomah di jalan cinta – Nya…

Yupz, bgitulah sejenak makna hati. Hati itu ibarat gelombang yang sealalu naik turun keimanannya. Tak pernha ada yang tahu kehiduapan kedepan kita ini seperti apa. Banyak factor lingkungan yang bisa mengubah urusan tentang yang satu ini. Hingga kadang orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Pencopet bisa berubah menjadi ustadz, dll. Melihat situasi ini penulis cuma ingin sejenak bersenandung.

Kehidupan bisa mengajarkanmu akan ketetepan hati…
Tak banyak kuduga…
Bahwa kadang ceritanya bagaikan sebuah sinetron yang tak pernah kurasa…
Hingga semua terasa hanyalah mimpi semata…

Ada sang wanita berkerudung panjang ke dada…
Rela melepas jilbabnya hanya untuk sekedar harta dan kecantikannya…
Seakan mereka lupa akan agama…
Padahal secara nyata…
Dia telah menggadaikan hati untuk kehidupan dunia…

Ada pula laki – laki pejuang yang dulu selalu berada di garda terdepan…
Kala ada genderang jihad perang bertabuhan…
Namun kini membuat hati nampak teralihkan…
Membuka topeng kepalsuan…
Membuatnya sejenak lupa akan agama yang telah ia gadaikan…
Hanya karena cinta dan harta yang tak terabadikan…

Mas’e… Mbak’e…
Tak pernah ada yang tahu ketetapan hati kita. Sejauh mana kita mampu bertahan di bawah godaan dan rayuan dunia yang makin merajalela ini. Seakan – akan syetan menggoda manusia dari berbagai mata penjuru mata angin. Hingga terkadang manusia dengan mudah mengubah status lamanya sebagai orang baik menjadi orang jahat. Namun, disitulah kita mulai tersadarkan bahwa kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa agar selalu berada di jalan cinta Allah SWT.


“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S Al – Fatihah 6 – 7)

Hingga pada akhirnya mungkin satu harap yang bisa kita pinta dalam penentuan arah kita. Semoga Allah menentapkan hati kita menuju kebaikan dan ketaqwaan. Banyak hal yang bisa mempengaruhi keistiqomahan hati kita, namun disitulah perjuangan kita untuk tetap bisa berJUANG menuju jalan cinta – Nya. Dan sebagai syair penutup, penulis coba hadirkan sebuah senandung kecil.


Hati manusia ibarat sang mentari pagi yang tak menentu…
Apakah akan terbit dengan cerahnya…
Atau justru mendung tebal menyelimuti…
Namun disitulah perJUANGan kita untuk menetapkan hati…
Memilih pada dua arah perjalanan…
Menjadi seorang “maling” ataupun “ustadz”…
Disitulah kita hanya bisa berharap pinta dalam doa…
Ya Allah…
Wahai Dzat Yang Maha Membolak – balikkan hati…
Tetapkanlah hamba di jalan ketakwaan -  Mu…
Bimbinglah hamba menuju jalan cinta – Mu…

NB: afwan… tidak bermaksud untuk menggurui atau mengajari. Tapi inilah harapan dan keinginan dalam hati agar kita selalu berada di jalan cinta – Nya. Maaf jika ada kekungan n kekhilafan dalam penulisan, kelebihan n kebenaran hanya milik Allah semata.  Saling berbagi inpirasi, saling mengingatkan. Semoga bermanfaat nggih. SMANGADZ. ^^V