Rabu, 17 Agustus 2011

Bendera ¾ Tiang


Majulah terus Indonesia… Buktikan prestasimu pada dunia…


Dedikasikan untuk :  Proclamation and 66 th Independent day of Indonesia
Yogyakarta, 17 Agustus 2011

Dulu…
Tujuh puluh tahun yang lalu…
Para pejuang masih tak henti memperjuangkan kemerdekaannya…
Menumpas penjajah dengan senjata seadanya…

Dulu
Enam puluh enam tahun yang lalu…
Sang pendiri bangsa berani dengan lantang…
Memproklamasikan kemerdekaannya…

Kini…
Bangsa ini telah berdiri 66 tahun tepatnya…
Berdiri dalam satu perjuangan tuk menggapai mimpi…

Kini…
Bangsa ini telah bersatu 66 tahun tepatnya…
Memacu semangat dan pantang menyerahnya…

Wahai para pemuda – pemudi Indonesia…
Teruslah bermimpi wujudkan cita – cita kalian…
Buatlah negeri ini bangga dengan prestasi kalian…
Tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia berarti…

Wahai para pemuda – pemudi Indonesia…
Buanglah sikap malas kalian…
Siapkan ego semangat kalian…
Berikan yang terbaik untuk negeri ini…

Wahai para pemuda – pemudi Indonesia…
Sang merah putih telah siap mencapai puncaknya…
Menggapai satu titik tertingginya…
Hanya menunggu semangat juangmu…
Tuk tetap berkobar dalam birunya langit di angkasa…


Ya Allah… Ya Rahman…
Berikan mimpi dan niat baik kita terridhoi…
Untuk mewujudkan bakti kami pada negeri…
Sebagai sebuah syukur akan nikmat dan anugerah-Mu…

Ya Allah… Ya Rahim…
Berikan secerca asa untuk negeri ini kembali berjaya…
Untuk mewujudkan cinta kami pada negeri…
Sebagai sebuah perjuangan dalam jalan cinta-Mu…

Indonesia sedang mencoba meraih titik kemenagannya.. Bak sebuah perjalanan bendera tuk mencapai titik tertingginya... Setidaknya masih ada harapan terpampang di depan tuk semakin menampakkan mimpi dan cita – cita negeri ini…

Jika bukan kita para pemuda – pemudi bangsa yang mengantarkan Indonesia ke mimpinya terus siapa lagi? Setidaknya mimpi itu masih terbuka lebar. Harapan itu masih banyak. Hanya perlu perjuangan dan semangat nasionalisme kita. Tuk mengantarkan sang bendera dari ¾ tiangnya hingga menjadi sang saka yang kan berkibar dengan tangguhnya…


SMANGADZZ KEMERDEKAAN…
MERDEKA!!!

Minggu, 14 Agustus 2011

Si Imut pun Ingin Bebagi Cinta


Terinspirasi oleh : anak – anak Majid Nurul Iman @ Blimbingsari , SEKIP
Didedikasikan untuk : Bapak, Ibu, calon bapak n calon Ibu
Sumber  inspirasi : Cara Nabi Mendidik Anak ; Ir. Muhammad ibnu Abdul Hafidh Suwaid
Yogyakarta , 14 Agustus 2011/ 14 Ramadhan 1432 H


Lihatlah sang kupu – kupu…
Sebelum ia terbang indah dalam satu kealamian warna bunga…
Ia adalah sang ulat yang menggelantung dari satu pohon ke pohon lainnya…
Hingga sayapnya kan merekah indah di tengah warna – warni bunga…

Lihatlah sang mawar yang merekah warnanya itu…
Sebelum ia menghadirkan kesejukan alaminya…
Ia adalah kuncup yang memerlukan mentari dan embun tuk kembali tumbuh segar…
Hingga warnanya kan semakin merekah indah dalam sebuah keagungan kuasa – Nya…

Begitulah Allah menghadirkan sebuah proses kehidupan. Tak pernah dia menghadirkan indahnya bunga dalam satu hal yang ajaib. Tak pernah dia menciptakan bayi burung yang dengan cepat bisa berterbangan. Semua butuh proses dalam satu kesatuan yang begitu indah jika kita syukuri dan nikmati secara naluri.

“Sepulang dari sholat tarawih. Budi belum juga beranjak meninggalkan masjid, Dia justru mulai maju ke depan dekat sang imam sholat tarawih. Dengan bergegas dia mengantri dengan teman – teman sebaya sekaligus mententeng buku kecil bertuliskan ‘Mentoring Kegiatan Siswa di Bulan Ramadhan’.  Sebuah buku yang mengkaji jadwal kegiatan siswa – siswi sekolah selama bulan Ramadhan ini.”
Hmmm, nampaknya bocah berwajah imut itu sedang mengantri untuk mendapatkan tanda tangan dari pak ustad sebagai bukti telah mengikuti kegiatan tarawih di malam itu. Sungguh hal yang menjadi rutinitas tak pernah ditinggalkan dari bulan Ramadhan. Bulan peningkatan kualitas iman dan takwa. Subhanallah…

Lepas dari dua hal tadi, kita bisa mengambil banyak inspirasi dari bocah imut. Sebuah inspirasi yang sangat manis, semanis ketika kita melihat wajahnya yang nampak polos dan lugu. Sebuah hikmah terdalam yang Allah hadirkan dari sebuah titik awal dari manusia.

“Kehidupan adalah sebuah proses panjang tuk meniti rajutan cinta dalam sebuah kain kanvas. Jika kita goresi dia dengan tinta warna – warni, maka akan muncul gradasi warna yang indah. Namun, sebaliknya jika kita kita goresi dengan warna hitam kelam, kan muncul suasana pekat tak berarti.” (aam-2011)

Mas.. Mbak…
Hidup mengajarkan kita tuk berjuang menggapai target dan mimpi yang kita inginkan. Sebuah proses yang kadang membuat kita tak betah tuk menanti sebuah kado terindah itu. Kita terlalu terburu-buru untuk menanti sebuah mimpi kita menjadi nyata. Hingga alhasil, kita sering ceroboh tuk memilih jalan penentuan.

Terkadang kita disudutkan dalam sebuah proses panjang yang melatih kesabaran. Sebuah proses yang menuntut kita untuk menikmati satu persatu cerita yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita. Memang bukan hal yang mudah untuk melatih kesabaran itu. Namun setidaknya satu hal yang kita yakinkan dan tekadkan kuat dalam diri kita. Allah pasti kan memberikan kado terindah dalam setiap niat baik kita. Allah kan membalas setiap niatan baik kita. InsyaAllah semua kan INDAH PADA WAKTUNYA. Bagaikan keindahan sang mawar yang mulau merekah. Ataupun sang burung yang mulai terbang tinggi menggelegar awan.


Mas… Mbak…
Bolah percaya atau tidak jika kita lihat wajah anak kecil akan tercipta satu perasaan damai dan tenang ketika menatap sikap dan tingkah lakunya.

Rasulullah saw, bersabda
“Setiap anak yang baru dilahirkan itu lahir dengan membawa fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani.”

Ataupun tertuang pula dalam firman Allah swt.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S Ar Rum:30)

Secara umum manusia tercipta dalam sebuah kesucian jiwa. Mereka mempunyai hak dan kemampuan yangh sama secara naluriah. Hanya saja lingungannyalah yang akan membentuk pola pikir. Lingkungan keluarga khususnya yang mempunyai peran penting untuk membentuk karakter dan tingkah laku anak. Keluarga dan lingkungan lah yang mempunyai peran menjadikan sepertia apa sang bocah imut di masa depannya. Selepas dari semua itu, manusia hanya bisa berusaha hingga sang penentu akhir adalah Allah SWT.


Mas… Mbak…
Oleh karena itulah, menjadi peran dari diri kita untuk mulai memikirkan akan nasib penerus kita di masa depan. Sebuah harapan dan optimis tinggi tentang masa depan generasi mendatang kita. Pada tangan kitalah semua kan dimulai tuk menggapai generasi islam yang lebih bermartabat dan mempunyai nilai karakter kuat sesuai dengan pondasi dasai islam. InsyaAllah jika Allah meridhoi niat baik kita.

Sebuah syair penutup akan mencoba menghadirkan karya dari Abul ‘Ala yang menyatakan dalam bait – baitnya:

“Para pemuda itu tumbuh menjadi dewasa
Tergantung bagaimana orang tuanya membiasakan mereka
Pemuda tidak dapat ditaklukan oleh akal semata
Melainkan oleh pembiasaan beragama dari orang – orang terdekatnya.”

Jumat, 12 Agustus 2011

MANUSIA BERHADAPAN DENGAN ENAM PERSIMPANGAN


Abu Bakar r.a. berkata, " Sesungguhnya iblis berdiri di depanmu, jiwa di sebelah kananmu, nafsu di sebelah kirimu, dunia di sebelah belakangmu dan semua anggota tubuhmu berada di sekitar tubuhmu. Sedangkan Allah di atasmu. Sementara iblis terkutuk mengajakmu meninggalkan agama, jiwa mengajakmu ke arah maksiat, nafsu mengajakmu memenuhi syahwat, dunia mengajakmu supaya memilihnya dari akhirat dan anggota tubuh menagajakmu melakukan dosa. Dan Tuhan mengajakmu masuk Syurga serta mendapat keampunan-Nya, sebagaimana firmannya yang bermaksud, "....Dan Allah mengajak ke Syurga serta menuju keampunan-Nya..."

Siapa yang memenuhi ajakan iblis, maka hilang agama dari dirinya. Sesiapa yang memenuhi ajakan jiwa, maka hilang darinya nilai nyawanya. Sesiapa yang memenuhi ajakan nafsunya, maka hilanglah akal dari dirinya. Siapa yang memenuhi ajakan dunia, maka hilang akhirat dari dirinya. Dan siapa yang memenuhi ajakan anggota tubuhnya, maka hilang syurga dari dirinya.
Dan siapa yang memenuhi ajakan Allah S.W.T., maka hilang dari dirinya semua kejahatan dan ia memperolehi semua kebaikan."

Iblis adalah musuh manusia, sementara manusia adalah sasaran iblis. Oleh itu, manusia hendaklah sentiasa berwaspada sebab iblis sentiasa melihat tepat pada sasarannya.

Dekaplah Cintaku di Jalan Takwa – Mu…


Bimbinglah aku di jalan cinta-Mu… Ridhoi aku di munajat takwa - Mu

by : aa.mawardhi
inspired by kegalauan dan suasana hati yang tak menentu
Yogyakarta, 12th August 2011/ 12 Ramadhan 1432 H


Kala mentari pagi menyapaku di sejuknya embun…
Ku tahu ada cinta dalam hangatnya Karunia – Mu…
Hingga embun pun akan luluh karena pancaran sinarannya…
Sebagai sebuah pertanda cinta dan kebesaran – Mu…

Kala ku lihat langit malam yang penuh bintang…
Ku tahu ada senyum dalam hangat mahligai takdir – Mu…
Hingga sang dewi malam pun akan nampak semakin indah…
Bersujud dan mengagungkan nama – Mu…

Begitulah makna cinta Sang Kuasa…
Begitu hebat dan luar biasa…
Bahkan jika kau jadikan ranting pohon sebagai penanya…
Dan lautan bak tintanya…
Tak kan mampu kita menuliskan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta…

Hidup bak perjalanan dalam sebuah putaran roda kehidupan…
Kadang senyumnya yang menghiasi membuat kita mampu tuk tetap tegar…
Namun, sering tangisnya yang menetes membuat kita sejenak merasa rapuh…
Terus menerus bergulir hingga akhir nafas kita…


Ya Allah…
Aku bukanlah hamba – Mu yang sempurna…
Masih banyak salah dan alpa yang kadang tak sengaja kulalui…
Hingga semua berjalan menjadi sebuah ketidakwarasanku…

Namun, aku tahu aku masih punya dirimu…
Yang tak kan pernah membiarkanku sendirian menempuh jalan takdir – Mu…
Hingga setelah kulalui manis pahitnya kehidupan…
Satu hal yang kudapatkan…
Hanya pada – Mu lah hamba berserah diri…
Hanya pada – Mu lah hamba bermunajatkan diri…

Ya Allah…
Kini ku yakini hanya diri – Mu lah Sang Penentu segalanya…
Dekaplah cintaku di jalan takwa – Mu…
Agar tetap kujalani sebagai satu karunia dan ridha di jalan cinta – Mu…

Rabu, 10 Agustus 2011

TUJUH MACAM PAHALA YANG DAPAT DINIKMATINYA SELEPAS MATINYA


Dari Anas r.a. berkata bahawa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya.

1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.

2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.

3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.

4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.

5. Sesiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.

6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.

7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya

8. yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur'an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : "Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :

1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)

2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.

3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

Maaf… Pak Bu Dosen… Bukan Anda yang Memberi Kami Nilai…


Hanya pada-Nya lah kita berserah diri…

Inspirasi dari ujian pendadaran kelulusan
Yogyakarta, 09 Agustus 2011


Siang itu, raut muka Jonjon nampak pucat pasi. Detak jantungnya bergulir cepat. Sedangakan ubun – ubun kepalanya terasa begitu panas. Seakan ada yang mau keluar dari dalam otaknya. Sementara rasa dingin menyelimuti seluruh pergelangan tangannya bagaikan seorang pendaki gurun es tanpa pengaman baju tebal.

Pukul 13.00 di ruang 231 kampus tua itu akan menjadi saksi perjalanan Jonjon dalam studi kuliahnya selama 3 tahun. Sungguh menjadi hari yang begitu hampa baginya. Pada hari itu akan menentukan hasil akhir dari perjalanan kuliahnya selama ini di uniersitas negeri ternama di kota Yogyakarta. Pada siang panas itu, Jonjon akan menghadapi ujian pendadaran. Sebuah ujian yang sering menjadi tumpuan akhir para mahasiswa “kaka tua” angKAtan – angKAtan TUA.
Pada akhir ujian sidang ini, nasibnya akan ditentukan apakah akan menghuni meja “NASAKOM” (Nasib Satu Koma), “PMDK” (Perkumulan Mahasiwa Dua Koma), ataupun tersenyum lebar sebagai mahasiswa “SMS” (Mahasiswa Status Memuaskan).

Hari pergelutan terakhir ini akan menentukan nasibnya selama ini kuliah di kampus tua ini. Sebagai sebuah langkah awal perhelatan dengan 4 pasang mata penguji. Membuat keringat dingin Jonjon semakin mengalir deras. Rasa gugup dan takut benar – benar menggerayangi pikiran dan hatinya.

Itulah sepenggal kisah yang terjadi pada sidang ujian pendadaran bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan program studi kuliahnya. Sebagai sebuah perjuangan penantian dari sebuah status sebagai seorang “mahasiswa”.
Namun, kali ini haru ku ucapkan “Maaf… Pak Bu Dosen… Bukan Anda yang Memberi Saya Nilai…”

Ya. Kita harus berani kuatkan tekad dalam diri kita bahwa bukan merekalah yang memberikan nilai akhir bagi kita. Memang benar mereka yang mempunyai kendali dan hak untuk memberikan kita status sebagai predikat “A/B/C atau bahkan D”. namun sekali lagi mereka hanyalah pelaksana dari semua proses kehidupan ini. Karena hanya Allah lah yang telah mengatur semua proses kehidupan ini. Dia-lah yang memiliki segala kehidupan ini beserta dangan isinya.

Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[462]. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman[463]. (Q.S Al An’ aam:12)
Mas… Mbak…


Jika kita tilik kembali, maka dapat kita renungi bahwa Bapak ibu dosen yang menuliskan nilai pada kita bukanlah semata sebagai individu yang menakdirkan sebuah nilai dalam transkip nilai kita. Mereka hanyalah sebuah penyalur dari kehendak Allah untuk diri kita. Mereka hanyalah sebagai sebuah tempat yang mulai membagikan rezekinya pada kita.

Mungkin Allah ingin menguji kita seberapa besar pengorbanan dan perjuangan kita untuk mengahadapi segala ujian di dunia ini. Hingga pada akhirnya kita kan memanen dari setiap usaha yang kita lakukan di kemudaian hari.

Jadi, kita mungkin ndak perlu cemas jika harus berhadapan dengan dosen dan penguji superkilleryang paling terkenal karena pelit berbagi nilai “A”. Toh, mereka manusia juga. Mereka tak akan menggigit dan memakan kita. Dan selama mereka masih makan nasi dan minum air, masih ada harapan untuk berbelas nilai baik pada mereka.

Satu hal yang mungkin Allah inginkan dari diri kita. Allah ingin melihat sejauh apa diri kita mau berusaha semaksimal mungkin, Hingga pada akhirnya Allah lah satu-satunya penentu akhir perjuangan ini.

Mas… Mbak…
Tak perlu risau menghadapi dosen killer yang mungkin akan sangar menyerupai singa ketika bertemu dengannya. Namun kita perlu teriakan dalam dada kita “Bukan mereka yang memberi kita nilai”. Kita masih memiliki Allah yang akan berbagi cinta dan kasihnya kepada manusia. “Allahu Akbar!!! Smangaddzzz (^_^)

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al Insaan : 30).
Tetap jaga ikhtiar kita, dan satu hal yang perlu kita pastikan bahwa Allah maha bijaksana. Dia ka nada untuk setiap hamba yang dekat dengan-Nya. Tetap tawakal dalam jalan cinta-Nya. Mari kita gapai takwa dan semangat kuat dalam diri kita tuk tetap optimis menggapai masa depan yang lebih indah.
SMANGADZzzz….

Minggu, 07 Agustus 2011

Kambing dan Alat Tenun


Imam Ahmad telah memberitakan dari Humaid bin Hilal, dia berkata: Ada seorang lelaki yang sering berulang-alik di kampung kami, lalu dia membawa cerita yang aneh-aneh kepada orang-orang kampung. Dia bercerita: Suatu ketika aku datang ke Madinah dalam rombongan dagang, lalu aku menjual semua barang-barang yang aku bawa. Aku berkata kepada diriku: Mengapa aku tidak pergi kepada orang lelaki yang membawa ajaran baru itu, barangkali aku dapat mendengar berita-berita yang aneh untuk aku bawa kembali bersamaku?! Aku pun pergi kepada Rasulullah SAW untuk bertanya sesuatu, lalu Beliau menunjuki arah sebuah rumah, katanya: Ada seorang wanita yang tinggal di rumah itu . Pernah dia mengikut tentera Islam berjihad, dan ditinggalkannya 12 ekor kambingnya dan sebuah alat tenunan yang digunakannya untuk menenun pakaian. Apabila dia kembali dari berjihad, didapati kambingnya hilang seekor, dan alat tenunannya pun hilang. Dia merasa sedih atas kehilangannya itu. Maka dia pun mengangkat kedua belah tangan berdoa kepada Tuhannya dengan penuh kesungguhan, katanya:

"Ya Tuhanku! Engkau telah berikan jaminan bahwa siapa yang keluar berjihad pada jalanmu, Engkau akan pelihara harta bendanya, dan sekarang aku telah kehilangan seekor kambing, dan alat tenunanku. jadi aku minta ganti kambing yang hilang dan alat tenunanku itu!"

Rasulullah SAW terus menceritakan betapa sungguh-sungguhnya dia berdoa dan memohon kepada Tuhannya, sehingga pada esok harinya dia mendapati di pintu rumahnya kambingnya yang hilang itu dengan seekor kambing lagi bersamanya. Begitu juga dia melihat alat tenunannya ada di situ dengan satu alat tenun yang lain. Itulah ceritanya, kata Rasulullah SAW dan jika engkau mau, pergilah kepadanya di rumah itu, dan tanyalah dia cerita itu! "Tidak", jawabku, "akan tetapi aku percaya semua yang engkau katakan itu!"
(Majma'uz-Zawaid 5:277)

Rabu, 03 Agustus 2011

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN


Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"

Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."

Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."

Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."

Bukan Surat Kaleng (Senandung Hati untuk Sahabatku)



Temanggung, 31 Juli 2011

Assalamu'alaikum wr wb

Sahabatku...
Apa kabarmu hari ini? Semoga Allah seantiasa memberimu kesehatan dan keridhoan dalam setiap langkahmu mengarungi jalan takdir-Nya. Semoga senyum kan selalu mewarnai hari - harimu dengan penuh kesyukuran akan nikmat Sang Maha Cinta.
Meskipun genggam erat tangan dan keteduhan tatapanmu tak kurasakan langsung menemani langkahku. Namun, kurasakan semangat dan kehadiranmu selalu ada dalam jiwaku. Membuat ketegaran dalam menapaki keteguhan dunia ini. Hingga kini ku siapkan satu ruang dalam hatiku untuk keberadaanmu sahabat...

Sahabtaku...
Aku tak pernah meminta untuk bisa mengenal dirimu. Dan aku tak pernah menyangka bisa berteman dengan dirmu. Namun, setidaknya Allah telah menghadrirkan sosokmu tuk bisa menemani ketegaranku. Bak pelangi yang hadir di tengah - tengah rintik hujan turun. Memberikan keindahan dalam kehampaan ceritaku ini. Sebagai sebuah jalan takdir tuk bisa mengenal sosokmu sahabatku...

Sahabatku...
Maafkan jika kadang ku mengeluh dan membuatmu tak habis pikir dengan cerita - cerita kemanjaanku. Terkadang keegoisan dan keteguhanku membuatmu tak mudah memahami sikap dan sifatku. Sering kali canda dan keisenganku membuatmu membuatmu kesal akan ulahku. Namun, yang kupahami karena kau telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupanku. Bagaikan sang bintang yang selau memeberikan keindahan setiap langit malam yang hampa...

Sahabatku...
Terima kasih untuk setiap senyum yang kau hadirkan dalam bibirmu. Untuk semangat yang kau bagikan tuk kembali memompa ketegaranku. Bagaikan lilin - lilin kecil yang siap berbagi cahayanya. Terima kasih untuk kesetiaan dan kepercayaan yang kau hadirkan untuk menemani ikatan ukhuwah persaudaraan ini. Bak mentari yang selalu menghangatkan pagi - pagiku dengan cahayanya.

Sahabatku...
Setidaknya aku masih punya mimpi dan harapan untuk bisa membalas setiap senyum yang kau hadirkan dalam hidupku. Satu senyum yang kau hadirkan dalam jiwaku kan kubalas dengan berjuta tawa dalam hatimu. Aku masih punya mimpi sebagai sebuah ungkapan hati akan kebaikan dan keindahan persahabatan kita. Aku hanya bisa berharap pinta dan doa pada Sang Maha Cinta, semoga Dia berkenan memberiku satu kesempatan untuk membalas kebaikanmu sahabatku. Amiien...

Sepenggal surat ini mungkin belum mampu menjaga ukhuwah persahabatan kita. Namun setidaknya sepenggal "bukan surat kaleng" ini kan menjadi saksi senandung hati untuk setiap langkahmu yang menemani hari - hariku. Hingga nanti akan ada senyum yang indah pada waktunya. Karena yang kuyakini Allah kan selalu membersamai setiap niat baik kita.

Tetaplah tegar sahabatku. Esok masih banyak rintangan dan tantangan di depan yang kan menanti langkah kita. Setidaknya teruslah kita jaga ikatan ukhuwah ini. Kita hadapi hambatan dan gangguan sebagai sebuah arti kehidupan akan makna kehadiran sahabat dalam senandung kehidupan ini. Hingga waktu yang kan menunggu mimpi - mimpi kita menjadi nyata.

Teruslah tersenyum dengan semangatmu sahabatku. Hadirkan senyum itu sebagai sebuah rasa terima kasihmu untuk orang - orang yang kau cinta. Sebagai sebuah rasa syukur akan nikmat dan karunia Allah pada setiap langkah kita.

Tetaplah kita jaga ikatan ukhuwah ini... Sebagai sebuah ikatan persahabatan tuk saling mengingatkan dalam jalan cinta-Nya...

Keep Ukhuwah... Keep spirit... Never ending frindship...
SMANGADZZzz...

Wassalamu'alaikum wr wb

ttd

aa.mawardhi


Ada Senyum dalam Semangkok Kolak Pisang


Tributed to my Mom (13 Rajab 1377 H – 6 Ramadhan 1428 H)
Terinspirasi oleh semangkok kolak di 1 ramadhan 1432 H
Temanggung , 01 Agustus 2011

 Sore itu pukul lima lewat tiga puluh lima...
Aku nampak asyik duduk menunggu saat kumandang adzan maghrib tiba...
Ditemani dengan tontonan kultum di depan layar kaca...
Sembari membaca sebuah buku bersampul hijau tua...
Tuk menambah pengetahuan dan ilmu agama...

Menu berbuka sore itu nampaklah sederhana...
Segelas teh manis hangat dengan uap mengepul di udara...
Dan juga tahu cokol yang nampak semakin menggugah selera...
Sebagai penghantar kering pembuka...
Dan slanjutnya...
Nasi putih dan sayur sup nampak tersaji di meja...
Seakan menungguku tuk siap berbuka puasa...

Namun, sejenak kupikirkan ada yang mulai janggal di kepala...
Tak lagi kutemukan semangkok kolak pisang yang selalu tersedia...
Buatan ibuku yang tak pernah alpa...
Kini sudah 4 tahun tak kurasakan manisnya kolak buatannya...
Dengan senyum dan raut gembira di mukanya...
Sembari berkata...
"Minumlah nak sebagai penghangat badanmu"

Hmmm...
Sudahlah kita lupakan sejenak cerita akan semangkok kolak...
Toh semuanya tak bisa mengelak...
Karena ada sepenggal cerita di manisnya kolak...
Mesipun dapat membuatku tersedak...
Jika harus ku ingat kembali cerita akan semangkok kolak...


Mas, Mbak...
Mungkin sepenggal sajak pembuka tadi sebagai sebuah inspirasi spesial akan bulan Ramadhan. Pernahkah kita mengira bahwa kolak pisang mungkin akan lebih sering hadir menemani hari - hari kita di bulan penuh berkah ini. Bayangkan akan kolak pisang yang kita makan di luar bulan Ramadhan. Akan nampak beda kenikmatannya seperti seketika kita mengincipinya di menu buka puasa kita. Itulah sebuah makna spesial dari hadirnya bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah dan hikmah ini.

Bagi ahli puasa... Ada dua kebahagiaan... Saat berbuka... Dan saat Allah menyapa untuk memberikan balasan...

Semangok kolak yang kita nikmati dalam menu buka puasa kita seakan sebagai sebuah jawaban manis. Sebuah pengobat dahaga dari kerongkongan kita yang setengah hari tak merasakan nikmatnya air minum. Begitupun kehidupan, kita bisa belajar kesabaran dari semangkok kolak pisang ini. Jika kita mau bersabar menunggu diri kita untuk  tetap tegar dalam menjalani kehidupan ini. Meskipun terasa pahit dan pedih namun akan terasa manis di ujung jawaban kita. Bak seorang musafir kehausan yang menemukan mata air pengobat dahaganya. Hidup yang penuh dengan berbagai macam problematika ini mengajarkan kita untuk tetap sabar dan ikhlas dalam menghadapinya. Karena di balik kesabaran kita ini akan kita temukan manisnya jalan kemenangan. Hanya perlu rasa tawakal untuk menanti waktu indah dari balasan rasa sabar kita. 

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Q.S Al Baqarah : 153


Mas Mbak...
Selain hikmah tadi, dapat kita temui juga akan ada cerita lain di balik semangkok kolak pisang. Seperti halnya ketika kita dapat mencampur pisang dengan komposisi bahan lain seperti kolang - kaling maupun labu (waluh). Akan ada variasi rasa yang berbeda ketika kita mencoba mencipicipi beraneka ragam kolak tersebut. Begitupula ketika kita mencoba menyikapi hikmah dari satu peristiwa. Akan ada himha laen yang tersembunyi dari cara pandang berbeda yang kita lakukan.


Bulan Ramadhan juga dapat menjadi bulan keluarga. Di bulan Ramadhan ini, setiap keluarga akan lebih banyak menyiapkan porsi untuk berkumpul dengan keluarga, mulai dari sahur bersama, sholat tarawih berjama'ah, maupun buka bareng. Semua aktivitas akan lebih banyak dilakukan secara berbarengan dengan anggota keluarga lainnya. 

Begitu pentingnya kehidupan keluarga sebagai modal awal untuk memberntuk pribadi anak. Keluarga sebagai sebuah pondasi dasar akan munculnya ikatan ukhuwah yang lebih besar. Dari hal dasar inilah peran orang tua akan mampu memahami dan membentuk pola pikir anak. Dan hal kecil ini dapat kita hadirkan hanya dari sekedar menikmati semangkok
kolak pisang secara bersama - sama.

Subhanallah...
Begitu besar hikmah yang dapat kita ambil dari hal - hal kecil di balik semua peristiwa sehari - hari kita. Hanya dari semangkok kolak pisang, dapat kita temui senyum dan cinta - Nya yang luar biasa...